ASSALAMUALAYKUM....

Ahlan wa Sahlan..Selamat datang..welcome...sugeng rawuh..
Semoga tulisan tulisan saya bisa bermanfaat

Demi sebuah rindu yang tak terperi
ku kan terus berlari
menyusuri lautan tak bertepi
mencari cahaya sejati

Kamis, 16 Agustus 2012

BELAJAR DARI ULAT

Dalam menjalani misinya sang ulat tak membiarkan sedikit waktu terbuang. Sang ulat baru berhenti ketika sampai pada saat yang ditentukan dimana ia harus berhenti makan untuk menuju ke dalam kondisi puasa yang keras. Puasa yang sangat ketat tanpa makan tanpa minum sama sekali, dalam lingkupan kepompong yang sempit dan gelap.
Pada masa kepompong ini terjadi sebuah peristiwa yang sangat menakjubkan, masa dimana terjadi transformasi dari seekor ulat yang menjijikkan menjadi kupu-kupu yang elok dan indahnya dikagumi manusia. Sang kupu-kupu yang terlahir seakan-akan menjadi makhluk baru yang mempunyai perwujudan dan perilaku yang baru dan sama sekali berubah. 

Haruskah kita membiarkan begitu saja sebuah peristiwa yang sangat indah dan mengesankan ini, tentu tidak. Sebenarnya kita patut malu bila melihat tabiat ulat yang pekerja keras. Ulat seakan tak mempunyai waktu yang terluang dan terbuang sedikitpun. Waktu yang tersedia adalah waktu yang sangat berharga bagi ulat untuk menggemukkan badan sebagai persiapan menuju sebuah keadaan dimana diperlukan energi yang besar yaitu masa kepompong, seakan dikejar-kejar oleh deadline sehingga sang ulat tak pernah beristirahat sejenakpun untuk terus melahap dedaunan. 

Berpacunya sang ulat dengan waktu, ternyata disebabkan sang ulat telah mempunyai sebuah tujuan yang sangat jernih dan jelas yaitu mengumpulkan semua potensi yang ada untuk menghadapi satu saat yang sangat kritis yaitu masa kepompong, dimana pada masa kepompong tersebut dibutuhkan persiapan yang prima. Datangnya masa kepompong adalah sebuah keniscayaan, maka sang ulat mempersiapkan dengan kerja keras untuk menghadapinya. 

Sebuah persiapan diri dengan kerja keras dilakukan juga pada hewan-hewan yang mengalami musim dingin. Dimana untuk menghadapi masa sulit di musim dingin, banyak hewan yang melakukan hibernasi selama musim dingin di gua-gua atau liang-liang, agar terhindar dari ganasnya musim dingin. Agar tubuh tetap hangat dan tersedianya energi maka sebelum menjelang musim dingin, hewan-hewan tersebut akan menumpuk lemak sebanyak-banyaknya di dalam tubuhnya, untuk dipakai sebagai bekal dalam tidur panjangnya. 

Lalu coba kita berkaca dan mereview diri kita, adakah semangat yang luar biasa selayaknya ulat yang telah menggunduli dedaunan, bukankah sebuah masa depan dan tanggung jawab yang begitu beratnya harus kita pikul dan tunaikan. Namun kita terbuai dan masih sering suka bermain-main, selayaknya tertipu oleh permainan yang sangat melenakan. 

Masa-masa dalam kehidupan kita sebagai individu atau kelompok, pasti tak akan pernah luput dari masa yang menyenangkan dan kemudian digantikan masa-masa yang sulit, itu adalah sebuah kepastian, sepasti bergantinya musim hujan disongsong oleh musim kemarau yang memayahkan. 

Di dalam masa-masa senang satu saat akan berganti menjadi masa yang sulit dan bahkan menjadi sebuah musibah karena mengintai sebuah keterlenaan. Sungguh benar hadist nabi untuk mengambil kesempatan lima sebelum lima: muda sebelum tua, sehat sebelum sakit, kaya sebelum miskin, hidup sebelum mati dan senggang sebelum sibuk (HR. Al Hakim dan Al Baihaqi). Dan bukankah kita telah diwanti-wanti untuk senantiasa mempersiapkan diri dengan apa saja yang kita mampu, untuk menggentarkan hati musuh-musuh kita. 

Janganlah kita terlena bahkan kalah dengan hewan yang bernama ulat yang mempunyai etos kerja unggul dan memiliki pola pandang yang jauh ke depan yang meniti masa depan tersebut dengan kerja keras, karena masa depan dengan kesulitan dan cobaan itu pasti akan datang dan menghampiri kita, maka persiapan yang matang dan kerja keras yang mampu menolong kita dan bukan kemalasan dan menunda-nunda pekerjaan. Wallahu a'lam bishshowab (Era Muslim.com)

MANDI WAJIB UNTUK MUSLIMAH

SUNAH RASUL TENTANG MANDI WAJIB

Ingin tahu, gimana tata cara mandi junub dan mandi wajib setelah haid yang dianjurkan oleh Rasulullah???

  1. Membasuh kedua tangan tiga kali
  2. Membasuh kemalauan dengan tangan kiri tanpa harus memasukkan air ke dalam kemaluan
  3. Berwudhu seperti wudhu untuk sholat, tapi boleh mengakhirkan basuhan pada kedua kaki hingga selesai mandi.
  4. Membasahi kepala tiga kali hinga mencapai pangkal rambut
  5. Membasahi seluruh badan dengan memulai bagian kanan dan dilanjutkan dengan bagian kiri.
  6. Dianjurkan memakai sabun dan semisalnya
  7. Dianjurkan menguraikan kepangan rambut saat mandi wajib
  8. Dianjurkan mengambil kain yang telah diolesi minyak wangi, digunakan untuk mengusap bekas darah sampai baunya hilang.

Cara mandi di atas hukumnya mustahab (dianjurkan), karena dimabil dari gabungan hadist-hadist rasulullah SAW, yang berkenaan dengannya. Alhasil, jika seorang wanita mandi wajib dengan mengikuti sebagian cara tersebut tetap sah, dengan syarat, harus membasuhi seluruh badannya dengan air.

v  Hadist-Hadist yang berkenaan
1.     Aisyah ra berkata,”Apabila Nabi SAW, mandi junub, beliaumemulainya dengan membasuh kedua tangan, dilanjutkan dengan wudhu seperti wudhu untuk sholat.Setelah itu, beliau memasukkan jari-jari tangannya ke dalam air lalu membasahi pangkal rambut. Beliau melanjutkan dengan menuangkan air pada kepala tiga kali lalu membasahi seluruh kulit (tubuhnya).” (h.r Bukhori dan Muslim)
2.      Maimunah berkata,” Aku menyipakan air untuk mandi Nabi SAW. Beliau membasuh kedua tangan dua atau tiga kali, menuangkan air dengan tangan kanan ke tangan kiri, lalu membasuh sekitar kemaluannya. Beliau menggosokkan tangan pada debu atau dinding lalu membasuhnya. Selanjutnya dia berkumur dan istinsyaq, membasuh wajah dan kedua tangan serta kepala. Kemudian membasahi seluruh badannya. Setelah itu beliau bergeser lalu membasuh kedua telapak kakinya. Maka, aku meyodorkan kain (handuk) kepadanya, tapi beliau menolaknya dengan memberi isyarat tangan.” (h.r. Bukhori dan Muslim)
3.      dll

Referensi: Abu Malik Kamal. 2007. Fiqih Sunah untuk Wanita. Jakarta: Al-I’tishom

Profil Singkat Umar Bin Abdul Aziz


Umar Bin Abdul Aziz
Oleh : Iis Santi Wirastuti
Silsilah Keluarga Umar Bin abdul Aziz
Umar bin Abdul Aziz adalah putra Abdul-Aziz bin Marwan, gubernur Mesir dan adik dari Khalifah Abdul-Malik. Ibunya adalah Ummu Asim binti Asim. Umar adalah cicit dari Khulafaur Rasyidin kedua Umar bin Khattab, dimana Muslim Sunni menghormatinya sebagai salah seorang Sahabat Nabi yang paling dekat. Umar dilahirkan sekitar tahun 682. Ada yang menyatakan ia dilahirkan di Madinah, sedangkan lainnya mengatakan ia lahir di Mesir. Umar dibesarkan di Madinah, dibawah bimbingan Ibnu Umar, salah seorang periwayat hadis terbanyak. Ia tinggal di sana sampai kematiannya ayahnya, kemudian ia dipanggil ke Damaskus oleh Abdul-Malik dan menikah dengan anak perempuannya Fatimah. Setelah ayah mertuanya meninggal ia diangkat sebagai gubernur Madinah oleh khalifah Al-Walid I tahun  706.
Menurut sejarah Muslim Sunni, silsilah keturunan Umar dengan Umar bin Khattab terkait dengan sebuah peristiwa terkenal yang terjadi pada masa kekuasaan Umar bin Khattab.
"Khalifah Umar sangat terkenal dengan kegiatannya beronda pada malam hari di sekitar daerah kekuasaannya. Pada suatu malam beliau mendengar dialog seorang anak perempuan dan ibunya, seorang penjual susu yang miskin.
Kata ibu “Wahai anakku, segeralah kita tambah air dalam susu ini supaya terlihat banyak sebelum terbit matahari
Anaknya menjawab “Kita tidak boleh berbuat seperti itu ibu, Amirul Mukminin melarang kita berbuat begini
Si ibu masih mendesak “Tidak mengapa, Amirul Mukminin tidak akan tahu”. 
Balas si anak “Jika Amirul Mukminin tidak tahu, tapi Tuhan Amirul Mukminin tahu”.

Umar yang mendengar kemudian menangis. Betapa mulianya hati anak gadis itu. Ketika pulang ke rumah, Umar bin Khattab menyuruh anak lelakinya, Asim menikahi gadis itu. Kata Umar, "Semoga lahir dari keturunan gadis ini bakal pemimpin Islam yang hebat kelak yang akan memimpin orang-orang Arab dan Ajam”.
Asim yang taat tanpa banyak tanya segera menikahi gadis miskin tersebut. Pernikahan ini melahirkan anak perempuan bernama Laila yang lebih dikenal dengan sebutan Ummu Asim. Ketika dewasa Ummu Asim menikah dengan Abdul-Aziz bin Marwan yang melahirkan Umar bin Abdul-Aziz.
Karier Politik Umar Bin Abdul Aziz
Di era Khalifah Al-Walid I (715 – 715) sebagai Gubernur Madinah, Umar membentuk sebuah dewan untuk mendukungnya menjalankan pemerintahan provinsi. Pada masa itu keluhan-keluhan resmi ke Damaskus berkurang dan dapat diselesaikan di Madinah, Keadaan itu membuat banyak orang yang berimigrasi dari Iraq ke Madinah, mencari perlindungan dari gubernur mereka yang kejam, Al-Hajjaj bin Yusuf. Hal tersebut menyebabkan kemarahan Al-Hajjaj, dan ia menekan al-Walid I untuk memberhentikan Umar. al-Walid I tunduk kepada tekanan Al-Hajjaj dan memberhentikan Umar dari jabatannya. Tetapi sejak itu, Umar sudah memiliki reputasi yang tinggi di Kekhalifahan Islam pada masa itu.
Umar sangat dekat dengan Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik (penerus Al-Walid I) yang merupakan sepupu Umar Sulaiman selalu mengagumi Umar, dan menolak untuk menunjuk saudara kandung dan anaknya sendiri pada saat pemilihan khalifah dan menunjuk Umar. Menjelang wafatnya Sulaiman, penasihat kerajaan bernama Raja’ bin Haiwah menasihati beliau, "Wahai Amirul Mukminin, antara perkara yang menyebabkan engkau dijaga di dalam kubur dan menerima syafaat dari Allah di akhirat kelak adalah apabila engkau tinggalkan untuk orang Islam khalifah yang adil, maka siapakah pilihanmu?". Jawab Khalifah Sulaiman, "Aku melihat Umar Ibn Abdul Aziz". Surat wasiat tersebut menunjuk Umar bin Abdul-Aziz sebagai penerus kekhalifahan, dan surat wasiat itu dirahasiakan dari kalangan menteri dan keluarga. Sebelum wafatnya Sulaiman, beliau memerintahkan agar para menteri dan para gubernur berbai’ah dengan nama bakal khalifah yang tercantum dalam surat wasiat tersebut.
Seluruh umat Islam berkumpul di dalam masjid dalam keadaan bertanya-tanya, siapa khalifah mereka yang baru. Raja’ Ibn Haiwah mengumumkan, "Bangunlah wahai Umar bin Abdul-Aziz, sesungguhnya nama engkaulah yang tertulis dalam surat ini". Umar bin Abdul-Aziz bangkit seraya berkata, "Wahai manusia, sesungguhnya jabatan ini diberikan kepadaku tanpa bermusyawarah dahulu denganku dan tanpa pernah aku memintanya, sesungguhnya aku mencabut bai’ah yang ada dileher kamu dan pilihlah siapa yang kalian kehendaki". Umat tetap menghendaki Umar sebagai khalifah dan Umar menerima dengan hati yang berat, hati yang takut kepada Allah dan tangisan. Segala keistimewaan sebagai khalifah ditolak dan Umar pulang ke rumah.
Ketika pulang ke rumah, Umar berfikir tentang tugas baru untuk memerintah seluruh daerah Islam yang luas dalam kelelahan setelah mengurus jenazah Khalifah Sulaiman bin Abdul-Malik. Beliau berniat untuk tidur. Pada saat itulah anaknya yang berusia 15 tahun, Abdul-Malik masuk melihat ayahnya dan berkata, "Apakah yang sedang engkau lakukan wahai Amirul Mukminin?". Umar menjawab, "Wahai anakku, ayahmu letih mengurusi jenazah bapak saudaramu dan ayahmu tidak pernah merasakan keletihan seperti ini". "Jadi apa engkau akan buat wahai ayah?", Tanya anaknya ingin tahu.  Umar membalas, "Ayah akan tidur sebentar hingga masuk waktu zuhur, kemudian ayah akan keluar untuk shalat bersama rakyat". Kemudian anaknya berkata “Ayah, siapa pula yang menjamin ayah masih hidup sehingga waktu zuhur nanti sedangkan sekarang adalah tanggungjawab Amirul Mukminin mengembalikan hak-hak orang yang dizalimi” Umar ibn Abdul Aziz terus terbangun dan membatalkan niat untuk tidur, beliau memanggil anaknya mendekati beliau, mengucup kedua belah mata anaknya sambil berkata “Segala puji bagi Allah yang mengeluarkan dari keturunanku, orang yang menolong aku di atas agamaku”

Pemerintahan Umar bin Abdul Aziz sebagai Khalifah
Umar Ibn Abdul Aziz mula memerintah pada usia 36 tahun dalam waktu 2 tahun 5 bulan 5 hari. Pemerintahan beliau sangat menakjubkan. Zaman pemerintahannya berhasil memulihkan keadaan negaranya dan mengkondisikan negaranya seperti saat 4 khalifah pertama (Khulafaur Rasyidin) memerintah. Kebijakannya dan kesederhanaan hidupnya pun tak kalah dengan 4 khalifah pertama itu. Karena itu banyak ahli sejarah menjuluki beliau dengan Khulafaur Rasyidin ke-5.

Pemimpin yang Adil
Ia mulai melakukan pembersihan di lingkungan keluarganya sendiri, sebelum membersihkan lingkungan orang-orang kepercayaan dan institusi luar lainnya. Dalam pidato pelantikannnya, ia menyatakan, "Manusia tidak akan bersengketa mengenai Allah SWT Zat yang disembahnya, tentang Kitab-Nya dan Rasul-Nya. Tapi mereka akan bersengketa tentang harta, emas, perak, dinar dan dirham. Demi Allah, aku tidak akan memberi seseorang dengan cara yang batil dan tidak pula akan menghalangi seseorang akan hak yang harus diterimanya. Aku hanya akan meletakkan sesuatu pada tempatnya sebagaimana diperintahkan agamaku. Yaitu adil."
"Sebelum aku, telah muncul para pemimpin lain. Mereka memiliki aturan macam-macam yang kalian anggap adil atau anggap zalim. Maka bagiku sekarang hanya ada satu pilihan, taatlah kepada pemerintahanku selama aku menegakkan keadilan dan kejujuran. Camkanlah, tidak ada ketaatan kepada makhluk yang bermaksiat kepada Al-Khalik. Taatlah kepadaku selama aku taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Jika aku durhaka kepada Allah, dan melawan hukum-hukumnya, tak ada keharusan bagi kalian untuk taat kepadaku."

Reformis Besar
                Setelah menjabat menjadi khalifah, Umar Bin Abdul Aziz melakukan tiga langkah reformasi besar-besaran, yaitu :
Maka langkah pertama yang harus ia lakukan adalah membersihkan dirinya sendiri, keluarga dan istana kerajaan. Begitu selesai dilantik Umar segera memerintahkan mengembalikan seluruh harta pribadinya, baik berupa uang maupun barang, ke kas negara, termasuk seluruh pakaiannya yang mewah. Ia juga menolak tinggal di istana, ia tetap menetap di rumahnya. Sejak berkuasa ia tidak pernah lagi tidur siang, mencicipi makanan enak. Akibatnya, badan yang tadinya padat berisi dan kekar berubah menjadi kurus dan ceking.
Setelah selesai dengan diri sendiri, Ia memberikan dua pilihan kepada isterinya, "Kembalikan seluruh perhiasan dan harta pribadimu ke kas negara, atau kita harus bercerai." Tapi istrinya, Fatimah Binti Abdul Malik, memilih ikut bersama suaminya dalam kafilah reformasi tersebut. Langkah itu juga ia lakukan dengan anak-anaknya. Suatu saat anak-anaknya memprotesnya karena sejak beliau menjadi khalifah mereka tidak pernah lagi menikmati makanan-makanan enak dan lezat yang biasa mereka nikmati sebelumnya. Tapi Umar justeru menangis tersedu-sedu dan memberika dua pilihan kepada anak-anak, "Saya beri kalian makanan yang enak dan lezat tapi kalian harus rela menjebloskan saya ke neraka, atau kalian bersabar dengan makanan sederhana ini dan kita akan masuk surga bersama."
Selanjutnya, Umar melangkah ke istana dan keluarga istana. Ia memerintahkan menjual seluruh barang-barang mewah yang ada di istana dan mengembalikan harganya ke kas negara. Setelah itu ia mulai mencabut semua fasilitas kemewahan yang selama ini diberikan ke keluarga istana, satu per satu dan perlahan-lahan.
Langkah kedua yang dilakukan Umar Bin Abdul Aziz adalah penghematan total dalam penyelenggaraan negara. Sumber pemborosan dalam penyelenggaraan negara biasanya terletak pada struktur negara yang tambun, birokrasi yang panjang, administrasi yang rumit. Tentu saja itu disamping gaya hidup keseluruhan dari para penyelenggara negara. Setelah secara pribadi beliau menunjukkan tekad untuk membersihkan KKN dan hidup sederhana, maka beliau pun mulai membersihkan struktur negara dari pejabat korup. Selanjutnya beliau merampingkan struktur negara, memangkas rantai birokrasi yang panjang, menyederhanakan sistem administrasi. Dengan cara itu negara menjadi sangat efisien dan efektif.
Langkah ketiga adalah melakukan redistribusi kekayaan negara secara adil. Dengan melakukan restrukturisasi organisasi negara, pemangkasan birokrasi, penyederhanaan sistem administrasi, pada dasarnya Umar telah menghemat belanja negara, dan pada waktu yang sama, mensosialisasikan semangat bisnis dan kewirausahaan di tengah masyarakat. Dengan cara begitu Umar memperbesar sumber-sumber pendapatan negara melalui zakat, pajak dan jizyah.
Itulah yang kemudian terjadi di masa Umar Bin Abdul Aziz. Jumlah pembayar zakat terus meningkat, sementara jumlah penerima zakat terus berkurang, bahkan habis sama sekali. Para amil zakat berkeliling di pelosok-pelosok Afrika untuk membagikan zakat, tapi tak seorang pun yang mau menerima zakat. Artinya, para mustahiq zakat benar-benar habis secara absolut. Sehingga negara mengalami surplus. Maka redistribusi kekayaan negara selanjutnya diarahkan kepada subsidi pembayaran utang-utang pribadi (swasta), dan subsidi sosial dalam bentuk pembiayaan kebutuhan dasar yang sebenarnya tidak menjadi tanggungan negara, seperti biaya perkawinan. Suatu saat akibat surplus yang berlebih, negara mengumumkan bahwa "negara akan menanggung seluruh biaya pernikahan bagi setiap pemuda yang hendak menikah di usia muda." 

Pemimpin Anti KKN
Umar bin Abdul Aziz mengeluarkan beberapa kebijakan untuk menghilangkan KKN yang menggelisahkan Bani Umayyah, yaitu keluarga besar Umar bin Abdul Aziz. Yaitu upaya pengembalian tanah dan harta kekayaan orang-orang yang pernah merasa dirampas atau dirugikan haknya oleh Khalifah Bani Umayyah terdahulu. Sanak keluarga yang terbukti pernah berbuat zalim ketika mereka berkuasa, dijatuhi hukuman, baik hukuman badan (pidana) atau membayar ganti rugi kepada orang yang dizaliminya. Yang masih berkuasa, diturunkan dari kedudukannya setelah mempertanggungjawabkan segala perbuatannya yang menzalimi rakyat.
Ia mengeluarkan surat edaran, melarang gubernur atau pejabat birokrasi ikut terlibat dalam bisnis. Menurut Umar, jika itu terjadi akan muncul monopoli, baik langsung oleh gubernur dan aparatnya, maupun oleh konco-konco-nya. Untuk mengganti dampak kerugian dari larangan itu, Umar menaikkan gaji para gubernur dan para pejabat wilayah hingga tiga ratus dinar. Hal itu agar mereka tidak korupsi, tidak khianat. Agar mereka jujur menjalankan tugasnya.
Ia juga mengeluarkan surat edaran yang melarang karib kerabat dan sanak keluarga Umayyah terlibat kegiatan bisnis dalam bentuk dan skala apa pun. Tentu saja sanak keluarga Umar bin Abdul Aziz protes keras. Menuduh Umar melanggar HAM, degil, tengil, tak berperikemanusiaan.
Saat-Saat terakhir Hidup Umar bin Abdul Aziz
Menyaksikan perubahan sikap hidup Umar yang begitu ketat, banyak di antara koleganya menyesal, mengapa mereka dulu memilih Umar bin Abdul Aziz sebagai khalifah. Umar bin Khattab yang terkenal adil bijaksana, mengundang kebencian di kalangan orang-orang yang tak menyukai keadilan dan kebijaksanaan. Beliau dibunuh ketika akan menunaikan salat subuh. Umar bin Abdul Aziz pun demikian. Sekelompok pengkhianat yang tak menyukai tindakan Umar memberantas KKN dan menegakkan keadilan dalam pemerintahan, membubuhkan racun ke dalam makanannya. Hampir tiga tahun Umar bin Abdul Aziz menderita sakit parah (717), sebelum dipanggil menghadap Ilahi Rabbi (720)

Rabu, 08 Februari 2012

MENGENAL SYETAN 'PART 2'

Pada suatu hari ada seorang ulama' yang tergoda oleh seorang wanita. namun dia tiba-tiba teringat sebuah ayat, QS Al A'raf: 201 "Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa apabila mereka dibayang-bayangi pikiran jahat (berbuat dosa) dari setan, mereka pun segera ingat pada Allah. Maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.
Dari kisah ini terlihat bahwa sekelas ulama' pun tidak akan terlepas dari dosa. menurut Umar Bin Khattab : setiap anak cucu Adam itu pasti melakukan dosa.
Dan dosa manusia itu disebabkan:
  1. Nafsu
  2. Syetan
Dalam Surat Al Baqarah: 208, disebutkan bahwa, "Janganlah kamu mengikuti langkah syetan, karena syetan adalah musuh kita yang nyata"

BIOGRAFI SYETAN

Dalam kitab Ibnu Katsir, beliau menukil ayat Ar Rahman ayat 14-15, yaitu Allah menciptakan manusia dari tanah liat, seperti tembikar. dan diciptakan jin itu dari nyalanya api.
Dalam hadist yang diriwayatkan dari Aisyah radiyallahu anha; "dan diciptakan malaikat itu dari cahaya, jin itu dari api, manusia dari tanah.
Dari ayat dan hadist itu bisa diambil kesimpulan bahwa yang pertama diciptakan oleh Allah adalah malaikat, lalu jin baru setelah itu manusia.

Terkadang ada yang mengatakan jin, ada pula yang menyebutnya iblis dan ada pula yang memanggilnya syetan. Apakah Jin-Iblis-syetan itu sama atau berbeda??
Jin-Syetan-Iblis itu sama. Sama di sini dalam artian mereka semua memilki dzat yang sama, yaitu sama-sama terbuat dari api yang menyala. Namun mereka itu juga berbeda, bedanya yaitu:
  • Iblis adalah jin yang pertamakali diciptakan oleh Allah. Jin yang paling bagus tampangnya, paling tinggi derajatnya, itulah Iblis. Kalau manusia yang pertamakali diciptakan oleh Allah adalah Nabi Adam, maka Jin yang pertamakali diciptakan adalah Iblis. Pada awalnya nama mereka adalah Azazi dan Abu Qurdus, namun ketika mereka tidak mau bersujud pada Adam, maka nama mereka diganti menjadi iblis.
  • Syetan adalah jin yang telah kufur.
  • Jin itu terbagi menjadi 2: Jin taat/ Jin mukmin/ Jin Ifrid, dan Jin Kafir/ Syetan
  • Sedangkan syetan itu juga terbagi menjadi 2 (seperti yang termaktub dalam QS An Naas, bahwa syetan itu terdiri dari jin dan manusia. 
  • Ketika Jin itu menggoda manusia ataupun jin itu menggoda jin yang lain maka dia menjadi syetan. 
  • Begitu juga manusia yang suka melakukan kemaksiatan maka dia telah menjadi syetan.
Syetan itu akan bertengger di dalam hati anak cucu Adam. Ketika manusia itu lalai dengan dosa-dosa itu maka syetan akan membisikkan keragu-raguan, dan ketika ia ingat pada Allah maka syetan itu akan lari terbirit-birit.
Dari Ibnu Abbas mengatakan bahwa: Syetan itu akan jalan berjingkat di belakang kita, lalu melilitkan tubuhnya di leher kita dan memasukkan mulutnya dekat dengan sanubari kita.



Abdullah Hamid membagi hati manusia ketika digoda syetan menjadi 3 jenis:
  1. Terperdaya, terjerembab, dan menikmati tipu daya syetan dan tidak akan kembali kepada Allah
  2. Tergoda dan terlena, tapi bisa kembali sampai Allah mengingatkannya, entah diingatkannya melalui nasehat orang lain. Dan pada umumnya jenis hati inilah yang dimiliki oleh manusia, nunggu ditegur dulu baru kembali.
  3. Hati orang yang bertakwa. Tergoda tapi tidak sampai terlena sebelum Allah mengingatkan dirinya melalui oranglain, ia langsung kembali ingat pada dosanya. Seperti cerita ulama' di atas tadi. Q.S. Al A'raf:201


Pengetahuan tambahan tentang syetan (hasil tanya jawab dengan ustadz):
  • Bagaimana dengan kasus orang kerasukan??
Orang yang kerasukan pasti di dalam hatinya ada rasa takut terhadap jin. Pintu masuk di buka oleh dirinya sendiri. Dan takut terhadap jin itu adalah bentuk syirik.

  • Ketika kita suka menghina, merendahkan, menjelek-jelekkan, maka lisan kita adalah lisan syetan. Syetan itu menyukai permusuhan.
  • Syetan secara dzatnya tidak bisa membunuh manusia. Tapi ketika berkolaborasi dengan syetan dari kalangan manusia, maka dia bisa membunuh. 
  • Bila seseorang terbunuh karena santet dan dia benar-benar beriman pada Allah maka insyaAllah dia akan khusnul khotimah.
  • Ketika syetan sudah bertengger dalam diri manusia, maka dia akan membuat orang itu gila (bisa dibuat bunuh diri). 
  • Orang yang gila setelah akhil baligh itu dekat dengan neraka. Pasti ada masalah dengan akidahnya.

INGAT!!!! JANGAN PERNAH TAKUT PADA JIN. ITU SYIRIK. HARUSNYA KITA TAKUT JIKA BERBUAT DOSA, BUKAN TAKUT PADA JIN.

Hasil dari kajian Jum'at pagi, pada tanggal 11-11-2011
dengan pembicara: Ust. Sholah



Selasa, 07 Februari 2012

‘MENGENAL SYETAN’ part 1

Resume Kajian Jum'at pagi, 3 november 2009.
MENGENAL SYETAN 
Pembicara: Ust. Imron Hamzah, S.Psi 

“Dan demikianlah untuk setiap nabi Kami menjadikan musuh yang terdiri dari syetan-syetan manusia dan jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan yang indah sebagai tipuan. Dan kalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak akan melakukannya, maka biarkanlah mereka bersama kebohongan yang mereka ada-adakan.” (QS. Al An’Am: 112) 

Syetan berarti yang membangkang sehingga segala yang membangkang baik dari golongan manusia dan jin disebut syetan. Berdasarkan surat Al An’am diatas disebutkan bahwa syetan terdiri dari dua golongan yaitu manusia dan jin yang bertugas untuk membisikkan kata-kata indah yang menipu.  
VISI HIDUP SYETAN,“ Sungguh syetan itu musuh bagimu, maka perlakukanlah ia sebagai musuh, karena sesungguhnya syetan itu hanya mengajak golongannya agar mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (QS. Fatir: 6).  

CIRI-CIRI GOLONGAN SYETAN,
  1. Makhluk yang sudah dikuasai syetan, dikuasai oleh pengingkaran, dikuasai oleh pembangkangan “Syetan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah, mereka itulah golongan syetan. Ketahuilah bahwa golongan syetan adalah golongan yang rugi.” (Al Mujadilah: 19)
  2. Makhluk yang Lalai. Ketika seseorang itu sudah dikuasai oleh syetan maka dia akan dibuat lalai pada yang seharusnya disembah, pada yang seharusnya dituruti perintahNya, sehingga termasuklah ia kepada golongannya (syetan). {QS. Al Mujadilah: 19-21}
  3. Senantiasa mengikuti hawa nafsu (sangat mudah meninggalkan shalat dan segala perintahNya serta lebih menuruti keinginan nafsunya). “Kemudian datanglah setelah mereka pengganti yang mengabaikan shalat dan mengikuti keinginannya maka mereka kelak akan tersesat.” (QS. Maryam: 59)
  4. Menjauhi Al Qur’an serta tidak mau mengikuti jika ada kebaikan. “...Dan jika mereka melihat jalan yang membawa pada petunjuk, mereka tidak akan menempuhnya, tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka menempuhnya. Yang demikian adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka selalu lengah terhadapnya.” (QS. Al A’raf: 146)
  5. Orang-orang yang loyal/ membantu musuh-musuh Allah

Kamis, 02 Februari 2012

MENYATUKAN VISI DALAM SEBUAH IKATAN SEJATI

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untuk kalian istri-istri dari jenis kalian sendiri, supaya kalian cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya di antara kalian rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir” (Ar-Rum :21)

“Jika kita menghijrahkan cinta; dari kata benda menjadi kata kerja maka tersusunlah sebuah kalimat peradaban dalam paragraf sejarah. Jika kita menghijrahkan cinta; dari jatuh cinta menuju bangun cinta maka cinta menjadi sebuah istana, tinggi menggapai surga” (Salim A. Fillah).

Cinta merupakan fitrah, karunia yang diberikan Allah kepada manusia, sebuah modal yang diberikan oleh Allah. Bagaimana seorang manusia menggunakan modal itu, itu adalah tanggungjawabnya. Cinta bukanlah kata benda, namun dia adalah sebuah kata kerja. Manusia bukan jatuh cinta namun bangun cinta. Begitulah seharusnya modal ini digunakan. “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan dengan memberikan surga untuk mereka” (At Taubah:111).

Coba kita fikirkan, Allah sudah memberi kita modal lalu Allah pun membeli kita dengan surgaNya, betapa nikmat yang luar biasa yang sudah diberikan Allah kepada manusia. Lalu apa yang harus kita fikirkan lagi, kenapa kita tidak segera menjual diri kita kepadaNya dan menggunakan modal ini sebaik-baiknya. ”Orang suci, menjaga kesuciannya dengan pernikahan, dan menjaga pernikahannya dengan kesucian” (Salim A.Fillah). 
Memperbaiki diri sendiri dan menyeru orang lain kepada Allah merupakan dua kewajiban dasar di atas jalan dakwah dan wajib bagi setiap muslim, lelaki dan wanita. Di samping dua kewajiban itu timbul lagi satu kewajiban yang tidak kurang pentingnya yaitu menegakkan rumahtangga muslim. 
Individu muslim itu adalah seorang manusia akidah yang wajib disediakan sarana untuk menjadi muslim yang sejati, yang menjadi contoh Islam yang sahih dan teladan pemimpin yang patut diikuti. Kita sangat memerlukan rumahtangga muslim yang menjadi contoh sebagai tiang yang kuat di dalam pembangunan masyarakat Islam. 
Keluarga muslim mempunyai peranan yang penting di dalam kekuatan dan perpaduan masyarakat atau perpecahan dan kemusnahannya. Rumahtangga merupakan tempat bagi tunas-tunas baru, yang dididik dan dibentuk di peringkat pembentukan dan persediaan. Rumahtanggalah yang bertanggungjawab mencetak dan membentuk keteguhan pribadi anak-anak yang akan mencorakkan hidup mereka. 

MENIKAH adalah keindahan, kecuali bagi yang menganggapnya sebagai beban. Rumahtangga adalah kemuliaan, kecuali bagi yang memandangnya sebagai rutinitas tak bermakna. Menikah, da’wah, dan jihad adalah seiring sejalan, kecuali bagi orang-orang yang terkacaukan logika dan nalarnya. 
PERNIKAHAN berarti mempertemukan kepentingan-kepentingan bukan mempertentangkannya. 
MENIKAH adalah peristiwa fitrah, fiqhiyah, dakwah, tarbiyah, sosial dan budaya. 
  • Fitrah artinya pernikahan merupakan salah satu sarana mengekspresikan sifat-sifat dasar kemanusiaan (yakni kecenderungan terhadap lawan jenis). 
  • Fiqhiyah artinya pernikahan memiliki sejumlah aturan fikih yang jelas (dari proses pembentukan keluarga, setelah terbentuknya keluarga, permasalahan dan solusinya). 
  • Dakwah artinya pernikahan merupakan pengkabaran tentang jati diri Islam kepada masyarakat. Tarbiyah artinya dengan pernikahan akan menguatkan sisi sisi kebaikan individual dari laki-laki dan perempuan yang menikah tersebut. 
  • Sosial artinya dengan pernikahan terhubunglah dua keluarga besar pihak laki-laki dan perempuan. 
  • Budaya artinya dengan pernikahan, terbaurkanlah 2 latar budaya yang tidak mesti sama dari kedua belah pihak. 

Di jalan dakwah, aku menikah. Jalan ini menawarkan kelurusan orientasi, bahwa pernikahan adalah ibadah. Bahwa berkeluarga adalah salah satu tahapan dakwah untuk menegakkan kedaulatan di muka bumi Allah SWT. Bahwa berkeluarga bukanlah hanya proses untuk menghalalkan sesuatu yang belum halal, bahwa menikah bukanlah hanya melembagakan cinta namun menikah adalah cara kita untuk berkeluarga, membingkai nilai dan moral bagi kehidupan awal manusia, menikah adalah penyempurna dan penyuplai keimanan. 

Untuk menjadikan Menikah sebagai penyempurna dan penyuplai keimanan maka sejak proses memilih jodoh landasannya haruslah benar. 
  • Memilih pasangan hidup haruslah karena kebaikan agamanya bukan sekedar karena kecantikan atau ketampanan wajah, kekayaan ataupun atribut-atribut fisikal lainnya. 
  • Proses bertemu dan menjalin hubungan hingga kesepakatan mau melangsungkan pernikahan tidak boleh diisi dengan kegiatan yang melanggar syariat dan nilai-nilai agama. 
"Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya." (asy-Syams: 9-10) Pemilihan Saudara muslim dan saudari muslimah yang mau memperbaiki diri dan menyeru orang lain kepada Allah wajib ke atas keduanya memilih pasangan masing-masing. Putera Islam mencari puteri Islam untuk menjadi isterinya yang solehah. Puteri Islam mencari putera Islam untuk menjadikan suaminya yang soleh untuk berkongsi kehidupan suami isteri. Dari awal-awal lagi hendaklah mereka membangunkan keluarga muslim yang diasaskan di atas dasar takwa. 
Saudara muslim yang sejati wajib mencari puteri Islam yang sejati dan memilih yang beragama, yang memahami tugas dan risalahnya di dalam kehidupan ini. Menjadikan pasangan hidupnya sebaik-baik penolong di atas jalan dakwah. Sentiasa mengingatkannya apabila dia lupa, sentiasa memberi perangsang dan tidak menghalangnya. Memelihara dirinya di waktu ketiadaannya walau berapa lama pun dan mendidik serta membentuk anak-anaknya menurut Islam yang sebenar. 
Demikian juga puteri Islam yang sejati, tidak wajar dan tidak patut menerima sebarang jejaka untuk menjadi pasangan hidupnya kecuali seorang muslim yang sejati yang menjadi pendokong dakwah Islam. Yaitu seorang penganut akidah yang sahih yang bertakwa kepada Allah. Si isterinya pula dapat menolongnya untuk taat setia kepada Allah dan mencapai keridhaan Allah. Dengan cara yang demikian kita telah berjaya membangunkan sebuah keluarga Islam yang akan menjadi pusat dakwah dan jihad Islam. 

Rasulullah s.a.w. telah mengarahkan kita kepadanya dengan sabda baginda: "Wanita itu dinikahi karana empat perkara: karana hartanya, karana keturunannya dan pangkatnya, karana kecantikannya dan kerana agamanya. Maka hendaklah kamu mengambil wanita yang beragama supaya kamu berbahagia". Oleh karana itu Rasulullah s.a.w., tidak mengiktiraf wali yang menikahkan puterinya dengan seorang lelaki yang tidak disukai oleh puterinya. Ini memberi peluang kepada puteri Islam untuk memilih suami yang soleh. Rumahtangga Muslim Merupakan Risalah Sebagaimana kita menghendaki bentuk yang benar dan hidup bagai Islam dan seorang muslim yang benar akidahnya, yang benar ibadatnya, yang benar akhlaknya, yang benar sikap dan yang benar segala tindak tanduk dan perkataannya, demikian juga kita menghendaki rumahtangga muslim itu supaya menjadi pusat perlaksanaan segenap ajaran Islam di dalam hidup berkeluarga dengan perlaksanaan yang selamat sejahtera dan teliti. 
Kita ingin melihat suami muslim yang memikul tanggungjawab terhadap rumahtangganya menurut ketentuan Islam. Kita mau melihat bapak-bapak muslim yang memelihara anak-anaknya dengan adab-adab Islam, memberi kefahaman Islam yang sejati kepada mereka dan mengawasi mereka pada setiap peringkat hidup mereka. Kita mau melihat isteri muslimah yang menjadikan rumahtangga sebagai taman sari yang memuaskan dan menggembirakan suaminya. Di dalamnya terdapat hiburan dan keberkatan jauh dari kepayahan dan penat lelah perjuangan dan menolong suaminya mentaati Allah Taala. 

Alangkah indah dan hebatnya kata-kata yang diucapkan oleh seorang isteri kepada suaminya tatkala dia keluar dari rumahnya di waktu pagi: "Bertakwalah kepada Allah di dalam urusan kami dan janganlah kekanda memberi kami makanan kecuali yang halal dan baik-baik sahaja". 
Kita ingin melihat di dalam rumahtangga muslim ini, ibu muslim yang memelihara anak-anak dan membentuk mereka menurut acuan Islam kerana dialah yang sentiasa berdamping dengan mereka. 
Inilah risalah, amanah dan tugas para wanita dan isteri yang paling penting yang selama ini coba dihapuskan oleh musuh-musuh manusia. Mereka coba menyelewengkan fakta-fakta ini dari para isteri dengan berbagai-bagai pembohongan dan penipuan dengan tujuan untuk merobohkan bangunan masyarakat. 

Kita ingin melihat di dalam rumahtangga muslim itu, putera puteri Islam yang sejati yang memperhambakan diri mereka kepada Tuhan. Mereka mentaati Allah, berbuat baik dan berjasa kepada ibu bapak. Mereka bergaul dengan sahabat-sahabat mereka menurut adab-adab Islam dan tidak lahir dari mulut sepatah perkataan dan sebarang perbuatan yang bertentangan dengan Islam. Kita mengingini rumahtangga muslim yang memelihara hubungan silaturrahim, yang senantiasa mengambil berat urusan kerabat dan menyempurnakan hak-hak mereka. Kita mahu melihat rumahtangga dan keluarga muslim menjadi satu bentuk yang ulung di mana Islam telah terpahat kokoh di dalam diri mereka. Mereka bergaul baik dengan khadam mereka, di mana khadam mereka makan apa yang mereka makan dan berpakaian seperti apa yang mereka pakai dan tidak membebankan sesuatu bebanan di luar kemampuannya. Apabila mereka membebankan sesuatu di luar kemampuannya, mereka menolongnya. 

Kita ingin melihat dari rumahtangga muslim itu satu bentuk yang unik sebagaimana yang telah digariskan oleh Islam tentang berbuat baik di dalam bermuamalah dengan tetangga. Mereka menyempurnakan hak tetangga sebagaimana peranan Rasulullah s.a.w. 

Kita menghendaki rumahtangga muslim yang melahirkan contoh teladan yang baik dalam setiap aspek kehidupan. Dengan fesyen pakaian yang Islamik, makanan dan minuman yang halal, akhlak yang mulia, sikap yang Islamik, gaya yang Islamik dalam setiap adat dan tradisi, di waktu suka dan duka. Mereka menjauhi segala unsur-unsur jahiliah dan budaya jahiliah yang diimport dari luar. 
Kita tidak mau melihat dari golongan sahib-ad-dakwah yang menyeru manusia kepada Allah, yang berjalan di atas jalan dakwah, melakukan sebarang kecuaian atau kelalaian di dalam melahirkan serta membina anggota-anggota keluarganya dengan ajaran Islam di dalam sebarang lapangan kehidupan keluarganya. Sesungguhnya orang yang lemah dalam memimpin rumahtangganya tidak akan mampu memimpin orang lain apatah lagi rumahtangga orang lain. 
Rumahtangga Muslim Sebagai Markas Memancarnya Cahaya Rumahtangga muslim yang sejati menurut tabiat dan lojiknya mesti menjadi pusat dakwah Islam. Setiap anggota keluarga yang akil baligh wajib menjadi sahibud-dakwah, pendukung dakwah, menyeru rumahtangga dan keluarga sekitarnya kepada Allah dengan penuh kesabaran, dengan hikmah dan nasihat yang baik. Isteri yang solehah mampu menarik hati tetangga-tetangga dengan dakwah kepada Allah. Kehadiran mereka merubah majlis-majlis yang dikuasai oleh umpat-mengumpat dan sia-sia menjadi majlis-majlis ilmu dan pelajaran dan ke arah memahami urusan agama. 
Bidang dakwah Islam sangat memerlukan saudari muslimat yang menyeru manusia kepada Allah, supaya memainkan peranannya di kalangan puteri bangsanya. Sesungguhnya wanita hari ini kecuali yang telah mendapat taufik Allah telah dijadikan boneka oleh musuh-musuh Islam untuk meruntuhkan dirinya dan memusnahkan orang lain. Tetapi kita hendaklah menjadikannya sebaga iwanita solehah yang turut bersama kita untuk memperbaiki yang rusak dan membangunkan yang ma‘ruf dan merobohkan yang mungkar serta menghapuskan yang batil, menyokong kemuliaan dan memerangi kehinaan. 
Kita menghendaki rumahtangga muslim sebagai rumah api yang memberi panduan dan petunjuk kepada orang-orang yang bingung dan sesat di sekitarnya. la menghapuskan dan memusnahkan segala kegelapan di sekelilingnya serta menyinari jalannya untuk dilalui oleh mereka. 

Dengan bertambahnya rumah-rumah muslim seperti ini akan bersambung-sambunglah daerah-daerah nur dan cahaya dan bercantum di antara satu sama lain sehingga mampu menyinari masyarakat. Maka dengan demikian keperibadian Islam mampu menyinari masyarakat dan memimpinnya di bawah naungan Islam. Lantaran itu kemuliaan mudah dikembang-biakkan dan kejahatan mudah dihapuskan. Barulah mudah dibentuk dasar dan asas keimanan yang bersih dan mantap sebagai asas bangunan Islam dan pemerintahan Islam seterusnya kerajaan Islam yang global. 

Untuk itu, saudara saudari putera puteri Islam harus dan patut bersungguh-sungguh dan bersegera membangunkan rumahtangga muslim yang ideal yang menjadi model Islam yang sejati untuk menjadi contoh teladan kepada generasi baharu. Ini adalah satu langkah yang penting dan asasi di jalan dakwah Islam. Mohonlah pertolongan dari Allah supaya Allah mudahkan dan jangan menyusahkan.
Wallahu alam bishowab. 

Maroji’ 
Masyhur, Musatafa. Jalan dakwah pdf 
Fillah, Salim A. Jalan Cinta Para Pejuang. 
Fillah, Salim A. Saksikan Bahwa Aku seorang Muslim 
Takariawan, Cahyadi. Keakhwatan 3.

HIJRAH KE HABSYAH

 Latar Belakang Hijrah
Rasulullah menyaksikan bencana yang menimpa para pengikutnya, sedangkan beliau tidak mampu melindungi mereka. Maka beliau berkata kepada mereka, “Seandainya kalian pergi ke negeri habsyah. Sesungguhnya disana terdapat seorang raja yang tidak akan dianiaya orang yang ada di dekatnya. Negeri habsyah adalah tanah kebenaran. Kalian sebaiknya berada di sana hingga Allah member kelapangan bagi kalian” 

  Hijrah Ini adalah hijrah pertama umat Islam. 
Kelompok pertama yang pergi menuju Habsyah terdiri dari 10 orang laki-laki dan 4 orang perempuan. Diantara mereka terdapat ‘Ustman bin Affan dan istrinya, Ruqoyyah binti Rasulullah saw. Mereka dipimpin oleh ‘Ustman bin Mazh’un. Kemudian pergi pula Ja’far bin Abi Thalib yang diikuti oleh umat islam lainnya hingga berkumpullah mereka di negeri habsyah. Diantara mereka ada yang pergi membawa keluarganya, ada pula yang pergi sendirian. Jumlah keseluruhan mereka yang hijrah adalah 83 orang. 
Tujuan dari hijrah ini bukan semata-mata untuk lepas dari gangguan kaum Quraisy namun berkaitan dengan (kepentingan) dakwah Islam dan meringankan beban Rasulullah. 

  Kejadian di Habsyah 
Fitnah dari kaum Quraisy dan Pembelaan dari Umat Islam 
Kaum Quraisy yang mengetahui bahwa orang-orang yang beriman telah mendapatkan ketentraman di habsyah maka mereka mengutus ‘Abdullah bin Abu Rabi’ah dan “amr bin al-‘Ah bin Wa’il. Mereka menyertakan pada keduanya hadiah-hadiah untuk Raja Najasyi dan para panglima perangnya, yaitu berupa benda-benda berharga produksi mekah. Mereka membujuk para panglima dan membuat mereka senang dengan hadiah itu.
Kedua utusan itu pun berbicara kepada Raja: “Sesungguhnya anak-anak yang bodoh telah meminta perlindungan ke negeri Tuan. Mereka telah meninggalkan agama kaumnya dan tidak pula masuk ke agama kalian. Mereka membawa agama yang baru yang tidak kami ketahui dan tidak pula kalian ketahui. Kami telah diutus oleh para pemimpin kaum mereka, ayah-ayah mereka, paman-paman mereka, dan keluarga mereka. Kami memohon agar engkau mengembalikan mereka kembali kepada kaumnya. Karena kaumnya lebih memahami dan lebih berhak atas mereka.
Raja Najasyi murka dan menolak perkataan dua orang itu. Ia akan menyelamatkan orang yang berlindung kepadanya dan ke negerinya. Ia bersumpah setia demi Allah. Lalu ia mengirim utusan untuk memanggil umat Islam dan memanggil para uskupnya.
Raja najasyi berkata kepada umat islam, “Agama apakah yang membuat kalian meninggalkan agama kaum kalian, sedangkan kalian pun tidak masuk ke dalam agamaku dan agama dari salah seorang dari para uskup ini”
Ja’Far bin Abi Tahlib, sepupu Rasulullah, berdiri dan berkata: “Wahai Raja! Dahulu kami adalah kaum jahiliyah. Kami menyembah berhala dan memakan bangkai. Kami juga melakukan perbuatan keji dan memutus tali silaturahmi. Orang yang kuat diantara kami memangsa yang lemah. Kami dahulu seperti itu hingga Allah mengutus kepada kami, seorang rasul yang kami kenal garis keturunannya, kebenaran, kejujuran dan kesuciannya. Ia mengajak kami untuk mengesakan Allah dan menyembahNya, meninggalkan apa yang dahulu kami sembah dan disembah oleh nenek moyang kami, yakni batu dan patung kayu” “Ia memerintahkan kepada kami untuk berkata jujur, melaksanakan amanah, menyambung hubungan kekeluargaaan, bersikap baik kepada tetangga, menjaga kehormatan dan menghentikan pertumpahan darah. Ia melarang kami melakukan perbuatan keji, mengucapkan sumpah palsu, memakan harta anak yatim, dan menuduh berzina pada perempuan yang baik-baik”. “Ia memerintahkan kami untuk menyembah Allah sebagai satu-satunya Tuhan, tidak menyekutukanNya dengan apapun. Ia memerintahkan kepada kami untuk mengerjakan shalat, menunaikan zakat, dan berpuasa…” Lalu Ja’far menyebutkan ajaran islam yang lainnya. “Maka kami mempercayainya dan kami beriman kepadanya. Kami mengikuti apa yang dibawanya dari Allah, kami menyembah Allah sebagai satu-satunya Tuhan, tidak menyekutukanNYa dengan apapun. Kami mengharamkan apa yang diharamkan atas kami, dan kami menghalalkan apa yang dihalalkan untuk kami.” “Maka kaum kami memusuhi kami. Mereka menyiksa kami. Mereka membujuk dan memaksa kami untuk meninggalkan agama kami, dan kembali kepada penyembahan berhala dari penyembahan kepada Allah Yang Maha Tinggi, dan agar kami menghalalkan perbuatan tercela yang dahulu (pada masa jahiliyah) kami halalkan.” “Ketika mereka memaksa kami, menganiaya kami, mempersulit kami dan menghalangi kami dari agama kami, maka kami pergi dari negeri kami. Kami memilih engkau dan kami merasa senang berada di dekatmu. Kami berharap agar kami tidak dianiaya disisimu, wahai raja”.
Raja mendengarkan penjelasan itu dengan tenang dan diam. Lalu bertanya, ”Apakah ada sesuatu yang dibawa sahabatmu itu untuk kalian tentang Allah?”. Ja’far pun membacakan surat Maryam. Maka menangislah Raja dan para uskupnya.
Perkataan Ja’far bin Abu Thalib di hadapan raja memperlihatkan perkataan seorang yang bijaksana, pada tempat dan waktu yang tepat. Uraian tersebut menunjukkan kesempurnaan akal yang dimilki oleh orang yang mengatakannya, selain menunjukkan kesempurnaan penguasaan bahasa arabnya. Hal itu tidak disebabkan oleh apapun kecuali ilham dari Allah untuk menguatkan agama yang cahayanya hendak Allah sempurnakan dan hendak Dia unggulkan dari seluruh agama. Perkataan tersebut juga menunjukkan kemurnian fitrah dan kecemerlangan akal, yang membuat Bani hasyim lebih unggul di kalangan kaum Quraisy, dan membuat kaum Quraisy unggul di hadapan seluruh bangsa Arab.
Ja’far lebih mengutamakan agar jawabannya adalah cerita tentang keadaan masyarakat jahiliyah di Jazirah Arab yang dialaminya. Juga tentang perubahan mereka setelah Alalh mengutus rasulNya kepada mereka. Ia ingin menunjukkan terjadinya perubahan pada masyarakat jahiliyah setelah Rasulullah mengajak kaumnya untuk menyembah Allah.

Kegagalan Utusan Kaum Quraisy dan Kemenangan Umat Islam
Raja najasyi berkata, “Sesungguhnya hal itu dan apa yang dibawa oleh Isa, keluar dari celah yang sama.” Kemudian ia berkata kepada kedua utusan, “Pulanglah kalian. Demi Allah, aku tidak akan menyerahkan mereka kepada kalian”
‘Amr bin Al Ash melontarkan “Panah terakhir”, ia berkata kepada raja Najasyi keesokan harinya, “Wahai raja, sesungguhnya mereka mengatakan sesuatu yang besar mengenai isa putera maryam.”
Maka Raja pun memanggil umat Islam, “Apa yang kalian katakan tentang Isa putera Maryam?”
Ja’far berkata, “Kami mengatakan apa yang dibawa oleh nabi kami. Isa adalah hamba Allah dan utusanNya. Ia adalah ruhNya dan ia adalah kalimatNya yang dimasukkan kepada Maryam sang perawan suci”.
Lalu Najasyi memukulkan tanganya ke tanah dan mengambil sebuah kayu. Kemudian ia berkata, “Demi Allah, Isa putera Maryam tidak lebih dari apa yang engkau katakan kecuali sebatas kayu ini.”
Raja Najasyi pun mengembalikan umat Islam dengan penuh penghormatan ke tempat mereka, menjaga kemanan mereka, dan memerintahkan untuk mengembalikan hadiah kedua utusan kaum Quraisy.
Kedua utusan itu pun pergi dalam keadaan tercela. Maka umat islam pun tinggal di tempat yang paling baik dengan tetangga yang baik pula.
Ketika raja Najasyi diserang musuh maka umat Islam pun membantunya sebagai pengakuan atas kebaikan raja kepada orang-orang tertindas yang berhijrah ke negerinya dan sebagai balasan atas kebaikannya. Hal ini sesuai dengan ajaran moral dalam islam dan sesuai dengan akhlak umat islam.

Hijrah ke Habsyah terjadi pada tahun ke-5 sesudah kenabian. Ja’far dan sejumlah sahabat menetap disana hingga tahun ke-7 Hijriah. Ja’far menemui rasulullah pada perang Khaibar. Jadi mereka tinggal di habsyah selama 15 tahun.