Umar
Bin Abdul Aziz
Oleh : Iis Santi Wirastuti
Silsilah
Keluarga Umar Bin abdul Aziz
"Khalifah
Umar sangat
terkenal dengan kegiatannya beronda pada malam hari di sekitar daerah
kekuasaannya. Pada suatu malam beliau mendengar dialog seorang anak perempuan
dan ibunya, seorang penjual susu yang miskin.
Kata ibu
“Wahai anakku, segeralah kita tambah air dalam susu ini supaya terlihat
banyak sebelum terbit matahari”
Anaknya
menjawab “Kita tidak boleh berbuat seperti itu ibu, Amirul Mukminin melarang
kita berbuat begini”
Si ibu
masih mendesak “Tidak mengapa, Amirul Mukminin tidak akan tahu”.
Balas si anak “Jika Amirul Mukminin tidak tahu, tapi Tuhan Amirul
Mukminin tahu”.
Umar yang mendengar kemudian menangis. Betapa
mulianya hati anak gadis itu. Ketika pulang ke rumah, Umar bin
Khattab menyuruh anak lelakinya, Asim menikahi
gadis itu. Kata Umar, "Semoga lahir dari keturunan gadis ini bakal
pemimpin Islam yang hebat kelak yang akan memimpin orang-orang Arab dan Ajam”.
Asim yang taat tanpa banyak tanya segera menikahi gadis
miskin tersebut. Pernikahan ini melahirkan anak perempuan bernama Laila yang
lebih dikenal dengan sebutan Ummu Asim. Ketika
dewasa Ummu Asim menikah dengan Abdul-Aziz bin Marwan yang melahirkan Umar
bin Abdul-Aziz.
Karier
Politik Umar Bin Abdul Aziz
Di era Khalifah
Al-Walid I (715 – 715) sebagai Gubernur Madinah, Umar membentuk sebuah dewan
untuk mendukungnya menjalankan pemerintahan provinsi. Pada masa itu
keluhan-keluhan resmi ke Damaskus berkurang dan dapat diselesaikan di Madinah, Keadaan itu membuat banyak orang
yang berimigrasi dari Iraq ke Madinah, mencari perlindungan dari gubernur
mereka yang kejam, Al-Hajjaj bin Yusuf. Hal tersebut
menyebabkan kemarahan Al-Hajjaj, dan ia menekan al-Walid I untuk memberhentikan
Umar. al-Walid I tunduk kepada
tekanan Al-Hajjaj dan memberhentikan Umar
dari jabatannya. Tetapi sejak itu, Umar
sudah memiliki reputasi yang tinggi di Kekhalifahan Islam pada masa itu.
Umar
sangat dekat dengan Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik (penerus Al-Walid I) yang
merupakan sepupu Umar Sulaiman
selalu mengagumi Umar, dan
menolak untuk menunjuk saudara kandung dan anaknya sendiri pada saat pemilihan
khalifah dan menunjuk Umar.
Menjelang wafatnya Sulaiman,
penasihat kerajaan bernama Raja’ bin
Haiwah menasihati beliau, "Wahai Amirul Mukminin, antara perkara yang
menyebabkan engkau dijaga di dalam kubur dan menerima syafaat dari Allah di
akhirat kelak adalah apabila engkau tinggalkan untuk orang Islam khalifah yang
adil, maka siapakah pilihanmu?". Jawab Khalifah Sulaiman, "Aku
melihat Umar Ibn Abdul Aziz". Surat wasiat tersebut
menunjuk Umar bin Abdul-Aziz sebagai
penerus kekhalifahan, dan surat
wasiat itu dirahasiakan dari kalangan menteri dan keluarga. Sebelum wafatnya
Sulaiman, beliau memerintahkan agar para menteri dan para gubernur berbai’ah
dengan nama bakal khalifah yang tercantum dalam surat wasiat tersebut.
Seluruh
umat Islam berkumpul di dalam masjid dalam keadaan bertanya-tanya, siapa
khalifah mereka yang baru. Raja’ Ibn Haiwah mengumumkan, "Bangunlah
wahai Umar bin Abdul-Aziz,
sesungguhnya nama engkaulah yang tertulis dalam surat ini". Umar bin Abdul-Aziz bangkit seraya berkata, "Wahai manusia, sesungguhnya
jabatan ini diberikan kepadaku tanpa bermusyawarah dahulu denganku dan tanpa
pernah aku memintanya, sesungguhnya aku mencabut bai’ah yang ada dileher kamu
dan pilihlah siapa yang kalian kehendaki". Umat tetap menghendaki Umar sebagai khalifah dan Umar menerima dengan hati yang berat,
hati yang takut kepada Allah dan tangisan. Segala keistimewaan sebagai khalifah
ditolak dan Umar pulang ke
rumah.
Ketika
pulang ke rumah, Umar berfikir
tentang tugas baru untuk memerintah seluruh daerah Islam yang luas dalam
kelelahan setelah mengurus jenazah Khalifah Sulaiman bin Abdul-Malik. Beliau berniat untuk tidur. Pada saat
itulah anaknya yang berusia 15 tahun, Abdul-Malik masuk
melihat ayahnya dan berkata, "Apakah yang sedang engkau lakukan wahai Amirul
Mukminin?". Umar
menjawab, "Wahai anakku, ayahmu letih mengurusi jenazah bapak saudaramu
dan ayahmu tidak pernah merasakan keletihan seperti ini". "Jadi apa engkau akan buat wahai
ayah?", Tanya anaknya ingin tahu. Umar
membalas, "Ayah akan tidur sebentar
hingga masuk waktu zuhur, kemudian ayah akan keluar untuk shalat bersama
rakyat". Kemudian anaknya berkata “Ayah,
siapa pula yang menjamin ayah masih hidup sehingga waktu zuhur nanti sedangkan
sekarang adalah tanggungjawab Amirul Mukminin mengembalikan hak-hak orang yang
dizalimi” Umar ibn Abdul Aziz terus terbangun dan membatalkan niat untuk tidur, beliau
memanggil anaknya mendekati beliau, mengucup kedua belah mata anaknya sambil
berkata “Segala puji bagi Allah yang mengeluarkan dari keturunanku, orang yang
menolong aku di atas agamaku”
Pemerintahan
Umar bin Abdul Aziz sebagai Khalifah
Umar Ibn Abdul Aziz mula memerintah pada usia 36 tahun dalam waktu 2 tahun 5
bulan 5 hari. Pemerintahan beliau sangat menakjubkan. Zaman pemerintahannya
berhasil memulihkan keadaan negaranya dan mengkondisikan negaranya seperti saat
4 khalifah pertama (Khulafaur Rasyidin)
memerintah. Kebijakannya dan kesederhanaan hidupnya pun tak kalah dengan 4
khalifah pertama itu. Karena itu banyak ahli sejarah menjuluki beliau dengan
Khulafaur Rasyidin ke-5.
Pemimpin yang Adil
Ia
mulai melakukan pembersihan di lingkungan keluarganya sendiri, sebelum
membersihkan lingkungan orang-orang kepercayaan dan institusi luar lainnya.
Dalam pidato pelantikannnya, ia menyatakan, "Manusia tidak akan
bersengketa mengenai Allah SWT Zat yang disembahnya, tentang Kitab-Nya dan
Rasul-Nya. Tapi mereka akan bersengketa tentang harta, emas, perak, dinar dan
dirham. Demi Allah, aku tidak akan memberi seseorang dengan cara yang batil dan
tidak pula akan menghalangi seseorang akan hak yang harus diterimanya. Aku
hanya akan meletakkan sesuatu pada tempatnya sebagaimana diperintahkan agamaku.
Yaitu adil."
"Sebelum
aku, telah muncul para pemimpin lain. Mereka memiliki aturan macam-macam yang
kalian anggap adil atau anggap zalim. Maka bagiku sekarang hanya ada satu
pilihan, taatlah kepada pemerintahanku selama aku menegakkan keadilan dan
kejujuran. Camkanlah, tidak ada ketaatan kepada makhluk yang bermaksiat kepada
Al-Khalik. Taatlah kepadaku selama aku taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Jika
aku durhaka kepada Allah, dan melawan hukum-hukumnya, tak ada keharusan bagi
kalian untuk taat kepadaku."
Reformis Besar
Setelah menjabat menjadi
khalifah, Umar Bin Abdul Aziz melakukan tiga langkah reformasi besar-besaran,
yaitu :
Maka langkah pertama yang harus ia lakukan adalah membersihkan dirinya sendiri,
keluarga dan istana kerajaan. Begitu selesai dilantik Umar segera memerintahkan mengembalikan seluruh harta pribadinya,
baik berupa uang maupun barang, ke kas negara, termasuk seluruh pakaiannya yang
mewah. Ia juga menolak tinggal di istana, ia tetap menetap di rumahnya. Sejak
berkuasa ia tidak pernah lagi tidur siang, mencicipi makanan enak. Akibatnya,
badan yang tadinya padat berisi dan kekar berubah menjadi kurus dan ceking.
Setelah selesai dengan diri sendiri, Ia
memberikan dua pilihan kepada isterinya, "Kembalikan seluruh perhiasan dan
harta pribadimu ke kas negara, atau kita harus bercerai." Tapi istrinya,
Fatimah Binti Abdul Malik,
memilih ikut bersama suaminya dalam kafilah reformasi tersebut. Langkah itu
juga ia lakukan dengan anak-anaknya. Suatu saat anak-anaknya memprotesnya
karena sejak beliau menjadi khalifah mereka tidak pernah lagi menikmati
makanan-makanan enak dan lezat yang biasa mereka nikmati sebelumnya. Tapi Umar justeru menangis tersedu-sedu dan
memberika dua pilihan kepada anak-anak, "Saya beri kalian makanan yang
enak dan lezat tapi kalian harus rela menjebloskan saya ke neraka, atau kalian
bersabar dengan makanan sederhana ini dan kita akan masuk surga bersama."
Selanjutnya, Umar melangkah ke istana dan keluarga istana. Ia memerintahkan
menjual seluruh barang-barang mewah yang ada di istana dan mengembalikan harganya
ke kas negara. Setelah itu ia mulai mencabut semua fasilitas kemewahan yang
selama ini diberikan ke keluarga istana, satu per satu dan perlahan-lahan.
Langkah kedua yang dilakukan Umar
Bin Abdul Aziz adalah
penghematan total dalam penyelenggaraan negara. Sumber pemborosan dalam
penyelenggaraan negara biasanya terletak pada struktur negara yang tambun,
birokrasi yang panjang, administrasi yang rumit. Tentu saja itu disamping gaya hidup keseluruhan
dari para penyelenggara negara. Setelah secara pribadi beliau menunjukkan tekad
untuk membersihkan KKN dan hidup sederhana, maka beliau pun mulai membersihkan
struktur negara dari pejabat korup. Selanjutnya beliau merampingkan struktur
negara, memangkas rantai birokrasi yang panjang, menyederhanakan sistem administrasi.
Dengan cara itu negara menjadi sangat efisien dan efektif.
Langkah ketiga adalah melakukan redistribusi kekayaan negara secara adil. Dengan
melakukan restrukturisasi organisasi negara, pemangkasan birokrasi,
penyederhanaan sistem administrasi, pada dasarnya Umar telah menghemat belanja negara, dan pada waktu yang sama,
mensosialisasikan semangat bisnis dan kewirausahaan di tengah masyarakat.
Dengan cara begitu Umar
memperbesar sumber-sumber pendapatan negara melalui zakat, pajak dan jizyah.
Itulah yang kemudian terjadi di masa Umar Bin Abdul Aziz. Jumlah pembayar zakat terus
meningkat, sementara jumlah penerima zakat terus berkurang, bahkan habis sama
sekali. Para amil zakat berkeliling di
pelosok-pelosok Afrika untuk membagikan zakat, tapi tak seorang pun yang mau
menerima zakat. Artinya, para mustahiq zakat benar-benar habis secara absolut.
Sehingga negara mengalami surplus. Maka redistribusi kekayaan negara
selanjutnya diarahkan kepada subsidi pembayaran utang-utang pribadi (swasta),
dan subsidi sosial dalam bentuk pembiayaan kebutuhan dasar yang sebenarnya
tidak menjadi tanggungan negara, seperti biaya perkawinan. Suatu saat akibat
surplus yang berlebih, negara mengumumkan bahwa "negara akan menanggung
seluruh biaya pernikahan bagi setiap pemuda yang hendak menikah di usia
muda."
Pemimpin Anti KKN
Umar
bin Abdul Aziz mengeluarkan beberapa kebijakan untuk menghilangkan KKN yang
menggelisahkan Bani Umayyah, yaitu keluarga besar Umar bin Abdul Aziz. Yaitu upaya pengembalian tanah dan harta kekayaan
orang-orang yang pernah merasa dirampas atau dirugikan haknya oleh Khalifah
Bani Umayyah terdahulu. Sanak keluarga yang terbukti pernah berbuat zalim
ketika mereka berkuasa, dijatuhi hukuman, baik hukuman badan (pidana) atau
membayar ganti rugi kepada orang yang dizaliminya. Yang masih berkuasa,
diturunkan dari kedudukannya setelah mempertanggungjawabkan segala perbuatannya
yang menzalimi rakyat.
Ia
mengeluarkan surat
edaran, melarang gubernur atau pejabat birokrasi ikut terlibat dalam bisnis.
Menurut Umar, jika itu terjadi
akan muncul monopoli, baik langsung oleh gubernur dan aparatnya, maupun oleh konco-konco-nya.
Untuk mengganti dampak kerugian dari larangan itu, Umar menaikkan gaji para gubernur dan para pejabat wilayah hingga
tiga ratus dinar. Hal itu agar mereka
tidak korupsi, tidak khianat. Agar mereka jujur menjalankan tugasnya.
Ia juga mengeluarkan surat edaran yang melarang karib kerabat dan sanak
keluarga Umayyah terlibat kegiatan bisnis dalam bentuk dan skala apa pun. Tentu
saja sanak keluarga Umar bin Abdul Aziz protes
keras. Menuduh Umar melanggar
HAM, degil, tengil, tak berperikemanusiaan.
Saat-Saat
terakhir Hidup Umar bin Abdul Aziz
Menyaksikan
perubahan sikap hidup Umar
yang begitu ketat, banyak di antara koleganya menyesal, mengapa mereka dulu
memilih Umar bin Abdul Aziz sebagai khalifah. Umar bin Khattab yang terkenal
adil bijaksana, mengundang kebencian di kalangan orang-orang yang tak menyukai
keadilan dan kebijaksanaan. Beliau dibunuh ketika akan menunaikan salat subuh. Umar bin Abdul Aziz pun demikian. Sekelompok
pengkhianat yang tak menyukai tindakan Umar
memberantas KKN dan menegakkan keadilan dalam pemerintahan, membubuhkan racun
ke dalam makanannya. Hampir tiga tahun Umar
bin Abdul Aziz
menderita sakit parah (717), sebelum dipanggil menghadap Ilahi Rabbi (720)