ASSALAMUALAYKUM....

Ahlan wa Sahlan..Selamat datang..welcome...sugeng rawuh..
Semoga tulisan tulisan saya bisa bermanfaat

Demi sebuah rindu yang tak terperi
ku kan terus berlari
menyusuri lautan tak bertepi
mencari cahaya sejati

Kamis, 16 Agustus 2012

BELAJAR DARI ULAT

Dalam menjalani misinya sang ulat tak membiarkan sedikit waktu terbuang. Sang ulat baru berhenti ketika sampai pada saat yang ditentukan dimana ia harus berhenti makan untuk menuju ke dalam kondisi puasa yang keras. Puasa yang sangat ketat tanpa makan tanpa minum sama sekali, dalam lingkupan kepompong yang sempit dan gelap.
Pada masa kepompong ini terjadi sebuah peristiwa yang sangat menakjubkan, masa dimana terjadi transformasi dari seekor ulat yang menjijikkan menjadi kupu-kupu yang elok dan indahnya dikagumi manusia. Sang kupu-kupu yang terlahir seakan-akan menjadi makhluk baru yang mempunyai perwujudan dan perilaku yang baru dan sama sekali berubah. 

Haruskah kita membiarkan begitu saja sebuah peristiwa yang sangat indah dan mengesankan ini, tentu tidak. Sebenarnya kita patut malu bila melihat tabiat ulat yang pekerja keras. Ulat seakan tak mempunyai waktu yang terluang dan terbuang sedikitpun. Waktu yang tersedia adalah waktu yang sangat berharga bagi ulat untuk menggemukkan badan sebagai persiapan menuju sebuah keadaan dimana diperlukan energi yang besar yaitu masa kepompong, seakan dikejar-kejar oleh deadline sehingga sang ulat tak pernah beristirahat sejenakpun untuk terus melahap dedaunan. 

Berpacunya sang ulat dengan waktu, ternyata disebabkan sang ulat telah mempunyai sebuah tujuan yang sangat jernih dan jelas yaitu mengumpulkan semua potensi yang ada untuk menghadapi satu saat yang sangat kritis yaitu masa kepompong, dimana pada masa kepompong tersebut dibutuhkan persiapan yang prima. Datangnya masa kepompong adalah sebuah keniscayaan, maka sang ulat mempersiapkan dengan kerja keras untuk menghadapinya. 

Sebuah persiapan diri dengan kerja keras dilakukan juga pada hewan-hewan yang mengalami musim dingin. Dimana untuk menghadapi masa sulit di musim dingin, banyak hewan yang melakukan hibernasi selama musim dingin di gua-gua atau liang-liang, agar terhindar dari ganasnya musim dingin. Agar tubuh tetap hangat dan tersedianya energi maka sebelum menjelang musim dingin, hewan-hewan tersebut akan menumpuk lemak sebanyak-banyaknya di dalam tubuhnya, untuk dipakai sebagai bekal dalam tidur panjangnya. 

Lalu coba kita berkaca dan mereview diri kita, adakah semangat yang luar biasa selayaknya ulat yang telah menggunduli dedaunan, bukankah sebuah masa depan dan tanggung jawab yang begitu beratnya harus kita pikul dan tunaikan. Namun kita terbuai dan masih sering suka bermain-main, selayaknya tertipu oleh permainan yang sangat melenakan. 

Masa-masa dalam kehidupan kita sebagai individu atau kelompok, pasti tak akan pernah luput dari masa yang menyenangkan dan kemudian digantikan masa-masa yang sulit, itu adalah sebuah kepastian, sepasti bergantinya musim hujan disongsong oleh musim kemarau yang memayahkan. 

Di dalam masa-masa senang satu saat akan berganti menjadi masa yang sulit dan bahkan menjadi sebuah musibah karena mengintai sebuah keterlenaan. Sungguh benar hadist nabi untuk mengambil kesempatan lima sebelum lima: muda sebelum tua, sehat sebelum sakit, kaya sebelum miskin, hidup sebelum mati dan senggang sebelum sibuk (HR. Al Hakim dan Al Baihaqi). Dan bukankah kita telah diwanti-wanti untuk senantiasa mempersiapkan diri dengan apa saja yang kita mampu, untuk menggentarkan hati musuh-musuh kita. 

Janganlah kita terlena bahkan kalah dengan hewan yang bernama ulat yang mempunyai etos kerja unggul dan memiliki pola pandang yang jauh ke depan yang meniti masa depan tersebut dengan kerja keras, karena masa depan dengan kesulitan dan cobaan itu pasti akan datang dan menghampiri kita, maka persiapan yang matang dan kerja keras yang mampu menolong kita dan bukan kemalasan dan menunda-nunda pekerjaan. Wallahu a'lam bishshowab (Era Muslim.com)

MANDI WAJIB UNTUK MUSLIMAH

SUNAH RASUL TENTANG MANDI WAJIB

Ingin tahu, gimana tata cara mandi junub dan mandi wajib setelah haid yang dianjurkan oleh Rasulullah???

  1. Membasuh kedua tangan tiga kali
  2. Membasuh kemalauan dengan tangan kiri tanpa harus memasukkan air ke dalam kemaluan
  3. Berwudhu seperti wudhu untuk sholat, tapi boleh mengakhirkan basuhan pada kedua kaki hingga selesai mandi.
  4. Membasahi kepala tiga kali hinga mencapai pangkal rambut
  5. Membasahi seluruh badan dengan memulai bagian kanan dan dilanjutkan dengan bagian kiri.
  6. Dianjurkan memakai sabun dan semisalnya
  7. Dianjurkan menguraikan kepangan rambut saat mandi wajib
  8. Dianjurkan mengambil kain yang telah diolesi minyak wangi, digunakan untuk mengusap bekas darah sampai baunya hilang.

Cara mandi di atas hukumnya mustahab (dianjurkan), karena dimabil dari gabungan hadist-hadist rasulullah SAW, yang berkenaan dengannya. Alhasil, jika seorang wanita mandi wajib dengan mengikuti sebagian cara tersebut tetap sah, dengan syarat, harus membasuhi seluruh badannya dengan air.

v  Hadist-Hadist yang berkenaan
1.     Aisyah ra berkata,”Apabila Nabi SAW, mandi junub, beliaumemulainya dengan membasuh kedua tangan, dilanjutkan dengan wudhu seperti wudhu untuk sholat.Setelah itu, beliau memasukkan jari-jari tangannya ke dalam air lalu membasahi pangkal rambut. Beliau melanjutkan dengan menuangkan air pada kepala tiga kali lalu membasahi seluruh kulit (tubuhnya).” (h.r Bukhori dan Muslim)
2.      Maimunah berkata,” Aku menyipakan air untuk mandi Nabi SAW. Beliau membasuh kedua tangan dua atau tiga kali, menuangkan air dengan tangan kanan ke tangan kiri, lalu membasuh sekitar kemaluannya. Beliau menggosokkan tangan pada debu atau dinding lalu membasuhnya. Selanjutnya dia berkumur dan istinsyaq, membasuh wajah dan kedua tangan serta kepala. Kemudian membasahi seluruh badannya. Setelah itu beliau bergeser lalu membasuh kedua telapak kakinya. Maka, aku meyodorkan kain (handuk) kepadanya, tapi beliau menolaknya dengan memberi isyarat tangan.” (h.r. Bukhori dan Muslim)
3.      dll

Referensi: Abu Malik Kamal. 2007. Fiqih Sunah untuk Wanita. Jakarta: Al-I’tishom

Profil Singkat Umar Bin Abdul Aziz


Umar Bin Abdul Aziz
Oleh : Iis Santi Wirastuti
Silsilah Keluarga Umar Bin abdul Aziz
Umar bin Abdul Aziz adalah putra Abdul-Aziz bin Marwan, gubernur Mesir dan adik dari Khalifah Abdul-Malik. Ibunya adalah Ummu Asim binti Asim. Umar adalah cicit dari Khulafaur Rasyidin kedua Umar bin Khattab, dimana Muslim Sunni menghormatinya sebagai salah seorang Sahabat Nabi yang paling dekat. Umar dilahirkan sekitar tahun 682. Ada yang menyatakan ia dilahirkan di Madinah, sedangkan lainnya mengatakan ia lahir di Mesir. Umar dibesarkan di Madinah, dibawah bimbingan Ibnu Umar, salah seorang periwayat hadis terbanyak. Ia tinggal di sana sampai kematiannya ayahnya, kemudian ia dipanggil ke Damaskus oleh Abdul-Malik dan menikah dengan anak perempuannya Fatimah. Setelah ayah mertuanya meninggal ia diangkat sebagai gubernur Madinah oleh khalifah Al-Walid I tahun  706.
Menurut sejarah Muslim Sunni, silsilah keturunan Umar dengan Umar bin Khattab terkait dengan sebuah peristiwa terkenal yang terjadi pada masa kekuasaan Umar bin Khattab.
"Khalifah Umar sangat terkenal dengan kegiatannya beronda pada malam hari di sekitar daerah kekuasaannya. Pada suatu malam beliau mendengar dialog seorang anak perempuan dan ibunya, seorang penjual susu yang miskin.
Kata ibu “Wahai anakku, segeralah kita tambah air dalam susu ini supaya terlihat banyak sebelum terbit matahari
Anaknya menjawab “Kita tidak boleh berbuat seperti itu ibu, Amirul Mukminin melarang kita berbuat begini
Si ibu masih mendesak “Tidak mengapa, Amirul Mukminin tidak akan tahu”. 
Balas si anak “Jika Amirul Mukminin tidak tahu, tapi Tuhan Amirul Mukminin tahu”.

Umar yang mendengar kemudian menangis. Betapa mulianya hati anak gadis itu. Ketika pulang ke rumah, Umar bin Khattab menyuruh anak lelakinya, Asim menikahi gadis itu. Kata Umar, "Semoga lahir dari keturunan gadis ini bakal pemimpin Islam yang hebat kelak yang akan memimpin orang-orang Arab dan Ajam”.
Asim yang taat tanpa banyak tanya segera menikahi gadis miskin tersebut. Pernikahan ini melahirkan anak perempuan bernama Laila yang lebih dikenal dengan sebutan Ummu Asim. Ketika dewasa Ummu Asim menikah dengan Abdul-Aziz bin Marwan yang melahirkan Umar bin Abdul-Aziz.
Karier Politik Umar Bin Abdul Aziz
Di era Khalifah Al-Walid I (715 – 715) sebagai Gubernur Madinah, Umar membentuk sebuah dewan untuk mendukungnya menjalankan pemerintahan provinsi. Pada masa itu keluhan-keluhan resmi ke Damaskus berkurang dan dapat diselesaikan di Madinah, Keadaan itu membuat banyak orang yang berimigrasi dari Iraq ke Madinah, mencari perlindungan dari gubernur mereka yang kejam, Al-Hajjaj bin Yusuf. Hal tersebut menyebabkan kemarahan Al-Hajjaj, dan ia menekan al-Walid I untuk memberhentikan Umar. al-Walid I tunduk kepada tekanan Al-Hajjaj dan memberhentikan Umar dari jabatannya. Tetapi sejak itu, Umar sudah memiliki reputasi yang tinggi di Kekhalifahan Islam pada masa itu.
Umar sangat dekat dengan Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik (penerus Al-Walid I) yang merupakan sepupu Umar Sulaiman selalu mengagumi Umar, dan menolak untuk menunjuk saudara kandung dan anaknya sendiri pada saat pemilihan khalifah dan menunjuk Umar. Menjelang wafatnya Sulaiman, penasihat kerajaan bernama Raja’ bin Haiwah menasihati beliau, "Wahai Amirul Mukminin, antara perkara yang menyebabkan engkau dijaga di dalam kubur dan menerima syafaat dari Allah di akhirat kelak adalah apabila engkau tinggalkan untuk orang Islam khalifah yang adil, maka siapakah pilihanmu?". Jawab Khalifah Sulaiman, "Aku melihat Umar Ibn Abdul Aziz". Surat wasiat tersebut menunjuk Umar bin Abdul-Aziz sebagai penerus kekhalifahan, dan surat wasiat itu dirahasiakan dari kalangan menteri dan keluarga. Sebelum wafatnya Sulaiman, beliau memerintahkan agar para menteri dan para gubernur berbai’ah dengan nama bakal khalifah yang tercantum dalam surat wasiat tersebut.
Seluruh umat Islam berkumpul di dalam masjid dalam keadaan bertanya-tanya, siapa khalifah mereka yang baru. Raja’ Ibn Haiwah mengumumkan, "Bangunlah wahai Umar bin Abdul-Aziz, sesungguhnya nama engkaulah yang tertulis dalam surat ini". Umar bin Abdul-Aziz bangkit seraya berkata, "Wahai manusia, sesungguhnya jabatan ini diberikan kepadaku tanpa bermusyawarah dahulu denganku dan tanpa pernah aku memintanya, sesungguhnya aku mencabut bai’ah yang ada dileher kamu dan pilihlah siapa yang kalian kehendaki". Umat tetap menghendaki Umar sebagai khalifah dan Umar menerima dengan hati yang berat, hati yang takut kepada Allah dan tangisan. Segala keistimewaan sebagai khalifah ditolak dan Umar pulang ke rumah.
Ketika pulang ke rumah, Umar berfikir tentang tugas baru untuk memerintah seluruh daerah Islam yang luas dalam kelelahan setelah mengurus jenazah Khalifah Sulaiman bin Abdul-Malik. Beliau berniat untuk tidur. Pada saat itulah anaknya yang berusia 15 tahun, Abdul-Malik masuk melihat ayahnya dan berkata, "Apakah yang sedang engkau lakukan wahai Amirul Mukminin?". Umar menjawab, "Wahai anakku, ayahmu letih mengurusi jenazah bapak saudaramu dan ayahmu tidak pernah merasakan keletihan seperti ini". "Jadi apa engkau akan buat wahai ayah?", Tanya anaknya ingin tahu.  Umar membalas, "Ayah akan tidur sebentar hingga masuk waktu zuhur, kemudian ayah akan keluar untuk shalat bersama rakyat". Kemudian anaknya berkata “Ayah, siapa pula yang menjamin ayah masih hidup sehingga waktu zuhur nanti sedangkan sekarang adalah tanggungjawab Amirul Mukminin mengembalikan hak-hak orang yang dizalimi” Umar ibn Abdul Aziz terus terbangun dan membatalkan niat untuk tidur, beliau memanggil anaknya mendekati beliau, mengucup kedua belah mata anaknya sambil berkata “Segala puji bagi Allah yang mengeluarkan dari keturunanku, orang yang menolong aku di atas agamaku”

Pemerintahan Umar bin Abdul Aziz sebagai Khalifah
Umar Ibn Abdul Aziz mula memerintah pada usia 36 tahun dalam waktu 2 tahun 5 bulan 5 hari. Pemerintahan beliau sangat menakjubkan. Zaman pemerintahannya berhasil memulihkan keadaan negaranya dan mengkondisikan negaranya seperti saat 4 khalifah pertama (Khulafaur Rasyidin) memerintah. Kebijakannya dan kesederhanaan hidupnya pun tak kalah dengan 4 khalifah pertama itu. Karena itu banyak ahli sejarah menjuluki beliau dengan Khulafaur Rasyidin ke-5.

Pemimpin yang Adil
Ia mulai melakukan pembersihan di lingkungan keluarganya sendiri, sebelum membersihkan lingkungan orang-orang kepercayaan dan institusi luar lainnya. Dalam pidato pelantikannnya, ia menyatakan, "Manusia tidak akan bersengketa mengenai Allah SWT Zat yang disembahnya, tentang Kitab-Nya dan Rasul-Nya. Tapi mereka akan bersengketa tentang harta, emas, perak, dinar dan dirham. Demi Allah, aku tidak akan memberi seseorang dengan cara yang batil dan tidak pula akan menghalangi seseorang akan hak yang harus diterimanya. Aku hanya akan meletakkan sesuatu pada tempatnya sebagaimana diperintahkan agamaku. Yaitu adil."
"Sebelum aku, telah muncul para pemimpin lain. Mereka memiliki aturan macam-macam yang kalian anggap adil atau anggap zalim. Maka bagiku sekarang hanya ada satu pilihan, taatlah kepada pemerintahanku selama aku menegakkan keadilan dan kejujuran. Camkanlah, tidak ada ketaatan kepada makhluk yang bermaksiat kepada Al-Khalik. Taatlah kepadaku selama aku taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Jika aku durhaka kepada Allah, dan melawan hukum-hukumnya, tak ada keharusan bagi kalian untuk taat kepadaku."

Reformis Besar
                Setelah menjabat menjadi khalifah, Umar Bin Abdul Aziz melakukan tiga langkah reformasi besar-besaran, yaitu :
Maka langkah pertama yang harus ia lakukan adalah membersihkan dirinya sendiri, keluarga dan istana kerajaan. Begitu selesai dilantik Umar segera memerintahkan mengembalikan seluruh harta pribadinya, baik berupa uang maupun barang, ke kas negara, termasuk seluruh pakaiannya yang mewah. Ia juga menolak tinggal di istana, ia tetap menetap di rumahnya. Sejak berkuasa ia tidak pernah lagi tidur siang, mencicipi makanan enak. Akibatnya, badan yang tadinya padat berisi dan kekar berubah menjadi kurus dan ceking.
Setelah selesai dengan diri sendiri, Ia memberikan dua pilihan kepada isterinya, "Kembalikan seluruh perhiasan dan harta pribadimu ke kas negara, atau kita harus bercerai." Tapi istrinya, Fatimah Binti Abdul Malik, memilih ikut bersama suaminya dalam kafilah reformasi tersebut. Langkah itu juga ia lakukan dengan anak-anaknya. Suatu saat anak-anaknya memprotesnya karena sejak beliau menjadi khalifah mereka tidak pernah lagi menikmati makanan-makanan enak dan lezat yang biasa mereka nikmati sebelumnya. Tapi Umar justeru menangis tersedu-sedu dan memberika dua pilihan kepada anak-anak, "Saya beri kalian makanan yang enak dan lezat tapi kalian harus rela menjebloskan saya ke neraka, atau kalian bersabar dengan makanan sederhana ini dan kita akan masuk surga bersama."
Selanjutnya, Umar melangkah ke istana dan keluarga istana. Ia memerintahkan menjual seluruh barang-barang mewah yang ada di istana dan mengembalikan harganya ke kas negara. Setelah itu ia mulai mencabut semua fasilitas kemewahan yang selama ini diberikan ke keluarga istana, satu per satu dan perlahan-lahan.
Langkah kedua yang dilakukan Umar Bin Abdul Aziz adalah penghematan total dalam penyelenggaraan negara. Sumber pemborosan dalam penyelenggaraan negara biasanya terletak pada struktur negara yang tambun, birokrasi yang panjang, administrasi yang rumit. Tentu saja itu disamping gaya hidup keseluruhan dari para penyelenggara negara. Setelah secara pribadi beliau menunjukkan tekad untuk membersihkan KKN dan hidup sederhana, maka beliau pun mulai membersihkan struktur negara dari pejabat korup. Selanjutnya beliau merampingkan struktur negara, memangkas rantai birokrasi yang panjang, menyederhanakan sistem administrasi. Dengan cara itu negara menjadi sangat efisien dan efektif.
Langkah ketiga adalah melakukan redistribusi kekayaan negara secara adil. Dengan melakukan restrukturisasi organisasi negara, pemangkasan birokrasi, penyederhanaan sistem administrasi, pada dasarnya Umar telah menghemat belanja negara, dan pada waktu yang sama, mensosialisasikan semangat bisnis dan kewirausahaan di tengah masyarakat. Dengan cara begitu Umar memperbesar sumber-sumber pendapatan negara melalui zakat, pajak dan jizyah.
Itulah yang kemudian terjadi di masa Umar Bin Abdul Aziz. Jumlah pembayar zakat terus meningkat, sementara jumlah penerima zakat terus berkurang, bahkan habis sama sekali. Para amil zakat berkeliling di pelosok-pelosok Afrika untuk membagikan zakat, tapi tak seorang pun yang mau menerima zakat. Artinya, para mustahiq zakat benar-benar habis secara absolut. Sehingga negara mengalami surplus. Maka redistribusi kekayaan negara selanjutnya diarahkan kepada subsidi pembayaran utang-utang pribadi (swasta), dan subsidi sosial dalam bentuk pembiayaan kebutuhan dasar yang sebenarnya tidak menjadi tanggungan negara, seperti biaya perkawinan. Suatu saat akibat surplus yang berlebih, negara mengumumkan bahwa "negara akan menanggung seluruh biaya pernikahan bagi setiap pemuda yang hendak menikah di usia muda." 

Pemimpin Anti KKN
Umar bin Abdul Aziz mengeluarkan beberapa kebijakan untuk menghilangkan KKN yang menggelisahkan Bani Umayyah, yaitu keluarga besar Umar bin Abdul Aziz. Yaitu upaya pengembalian tanah dan harta kekayaan orang-orang yang pernah merasa dirampas atau dirugikan haknya oleh Khalifah Bani Umayyah terdahulu. Sanak keluarga yang terbukti pernah berbuat zalim ketika mereka berkuasa, dijatuhi hukuman, baik hukuman badan (pidana) atau membayar ganti rugi kepada orang yang dizaliminya. Yang masih berkuasa, diturunkan dari kedudukannya setelah mempertanggungjawabkan segala perbuatannya yang menzalimi rakyat.
Ia mengeluarkan surat edaran, melarang gubernur atau pejabat birokrasi ikut terlibat dalam bisnis. Menurut Umar, jika itu terjadi akan muncul monopoli, baik langsung oleh gubernur dan aparatnya, maupun oleh konco-konco-nya. Untuk mengganti dampak kerugian dari larangan itu, Umar menaikkan gaji para gubernur dan para pejabat wilayah hingga tiga ratus dinar. Hal itu agar mereka tidak korupsi, tidak khianat. Agar mereka jujur menjalankan tugasnya.
Ia juga mengeluarkan surat edaran yang melarang karib kerabat dan sanak keluarga Umayyah terlibat kegiatan bisnis dalam bentuk dan skala apa pun. Tentu saja sanak keluarga Umar bin Abdul Aziz protes keras. Menuduh Umar melanggar HAM, degil, tengil, tak berperikemanusiaan.
Saat-Saat terakhir Hidup Umar bin Abdul Aziz
Menyaksikan perubahan sikap hidup Umar yang begitu ketat, banyak di antara koleganya menyesal, mengapa mereka dulu memilih Umar bin Abdul Aziz sebagai khalifah. Umar bin Khattab yang terkenal adil bijaksana, mengundang kebencian di kalangan orang-orang yang tak menyukai keadilan dan kebijaksanaan. Beliau dibunuh ketika akan menunaikan salat subuh. Umar bin Abdul Aziz pun demikian. Sekelompok pengkhianat yang tak menyukai tindakan Umar memberantas KKN dan menegakkan keadilan dalam pemerintahan, membubuhkan racun ke dalam makanannya. Hampir tiga tahun Umar bin Abdul Aziz menderita sakit parah (717), sebelum dipanggil menghadap Ilahi Rabbi (720)