ASSALAMUALAYKUM....

Ahlan wa Sahlan..Selamat datang..welcome...sugeng rawuh..
Semoga tulisan tulisan saya bisa bermanfaat

Demi sebuah rindu yang tak terperi
ku kan terus berlari
menyusuri lautan tak bertepi
mencari cahaya sejati

Rabu, 08 Februari 2012

MENGENAL SYETAN 'PART 2'

Pada suatu hari ada seorang ulama' yang tergoda oleh seorang wanita. namun dia tiba-tiba teringat sebuah ayat, QS Al A'raf: 201 "Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa apabila mereka dibayang-bayangi pikiran jahat (berbuat dosa) dari setan, mereka pun segera ingat pada Allah. Maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.
Dari kisah ini terlihat bahwa sekelas ulama' pun tidak akan terlepas dari dosa. menurut Umar Bin Khattab : setiap anak cucu Adam itu pasti melakukan dosa.
Dan dosa manusia itu disebabkan:
  1. Nafsu
  2. Syetan
Dalam Surat Al Baqarah: 208, disebutkan bahwa, "Janganlah kamu mengikuti langkah syetan, karena syetan adalah musuh kita yang nyata"

BIOGRAFI SYETAN

Dalam kitab Ibnu Katsir, beliau menukil ayat Ar Rahman ayat 14-15, yaitu Allah menciptakan manusia dari tanah liat, seperti tembikar. dan diciptakan jin itu dari nyalanya api.
Dalam hadist yang diriwayatkan dari Aisyah radiyallahu anha; "dan diciptakan malaikat itu dari cahaya, jin itu dari api, manusia dari tanah.
Dari ayat dan hadist itu bisa diambil kesimpulan bahwa yang pertama diciptakan oleh Allah adalah malaikat, lalu jin baru setelah itu manusia.

Terkadang ada yang mengatakan jin, ada pula yang menyebutnya iblis dan ada pula yang memanggilnya syetan. Apakah Jin-Iblis-syetan itu sama atau berbeda??
Jin-Syetan-Iblis itu sama. Sama di sini dalam artian mereka semua memilki dzat yang sama, yaitu sama-sama terbuat dari api yang menyala. Namun mereka itu juga berbeda, bedanya yaitu:
  • Iblis adalah jin yang pertamakali diciptakan oleh Allah. Jin yang paling bagus tampangnya, paling tinggi derajatnya, itulah Iblis. Kalau manusia yang pertamakali diciptakan oleh Allah adalah Nabi Adam, maka Jin yang pertamakali diciptakan adalah Iblis. Pada awalnya nama mereka adalah Azazi dan Abu Qurdus, namun ketika mereka tidak mau bersujud pada Adam, maka nama mereka diganti menjadi iblis.
  • Syetan adalah jin yang telah kufur.
  • Jin itu terbagi menjadi 2: Jin taat/ Jin mukmin/ Jin Ifrid, dan Jin Kafir/ Syetan
  • Sedangkan syetan itu juga terbagi menjadi 2 (seperti yang termaktub dalam QS An Naas, bahwa syetan itu terdiri dari jin dan manusia. 
  • Ketika Jin itu menggoda manusia ataupun jin itu menggoda jin yang lain maka dia menjadi syetan. 
  • Begitu juga manusia yang suka melakukan kemaksiatan maka dia telah menjadi syetan.
Syetan itu akan bertengger di dalam hati anak cucu Adam. Ketika manusia itu lalai dengan dosa-dosa itu maka syetan akan membisikkan keragu-raguan, dan ketika ia ingat pada Allah maka syetan itu akan lari terbirit-birit.
Dari Ibnu Abbas mengatakan bahwa: Syetan itu akan jalan berjingkat di belakang kita, lalu melilitkan tubuhnya di leher kita dan memasukkan mulutnya dekat dengan sanubari kita.



Abdullah Hamid membagi hati manusia ketika digoda syetan menjadi 3 jenis:
  1. Terperdaya, terjerembab, dan menikmati tipu daya syetan dan tidak akan kembali kepada Allah
  2. Tergoda dan terlena, tapi bisa kembali sampai Allah mengingatkannya, entah diingatkannya melalui nasehat orang lain. Dan pada umumnya jenis hati inilah yang dimiliki oleh manusia, nunggu ditegur dulu baru kembali.
  3. Hati orang yang bertakwa. Tergoda tapi tidak sampai terlena sebelum Allah mengingatkan dirinya melalui oranglain, ia langsung kembali ingat pada dosanya. Seperti cerita ulama' di atas tadi. Q.S. Al A'raf:201


Pengetahuan tambahan tentang syetan (hasil tanya jawab dengan ustadz):
  • Bagaimana dengan kasus orang kerasukan??
Orang yang kerasukan pasti di dalam hatinya ada rasa takut terhadap jin. Pintu masuk di buka oleh dirinya sendiri. Dan takut terhadap jin itu adalah bentuk syirik.

  • Ketika kita suka menghina, merendahkan, menjelek-jelekkan, maka lisan kita adalah lisan syetan. Syetan itu menyukai permusuhan.
  • Syetan secara dzatnya tidak bisa membunuh manusia. Tapi ketika berkolaborasi dengan syetan dari kalangan manusia, maka dia bisa membunuh. 
  • Bila seseorang terbunuh karena santet dan dia benar-benar beriman pada Allah maka insyaAllah dia akan khusnul khotimah.
  • Ketika syetan sudah bertengger dalam diri manusia, maka dia akan membuat orang itu gila (bisa dibuat bunuh diri). 
  • Orang yang gila setelah akhil baligh itu dekat dengan neraka. Pasti ada masalah dengan akidahnya.

INGAT!!!! JANGAN PERNAH TAKUT PADA JIN. ITU SYIRIK. HARUSNYA KITA TAKUT JIKA BERBUAT DOSA, BUKAN TAKUT PADA JIN.

Hasil dari kajian Jum'at pagi, pada tanggal 11-11-2011
dengan pembicara: Ust. Sholah



Selasa, 07 Februari 2012

‘MENGENAL SYETAN’ part 1

Resume Kajian Jum'at pagi, 3 november 2009.
MENGENAL SYETAN 
Pembicara: Ust. Imron Hamzah, S.Psi 

“Dan demikianlah untuk setiap nabi Kami menjadikan musuh yang terdiri dari syetan-syetan manusia dan jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan yang indah sebagai tipuan. Dan kalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak akan melakukannya, maka biarkanlah mereka bersama kebohongan yang mereka ada-adakan.” (QS. Al An’Am: 112) 

Syetan berarti yang membangkang sehingga segala yang membangkang baik dari golongan manusia dan jin disebut syetan. Berdasarkan surat Al An’am diatas disebutkan bahwa syetan terdiri dari dua golongan yaitu manusia dan jin yang bertugas untuk membisikkan kata-kata indah yang menipu.  
VISI HIDUP SYETAN,“ Sungguh syetan itu musuh bagimu, maka perlakukanlah ia sebagai musuh, karena sesungguhnya syetan itu hanya mengajak golongannya agar mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (QS. Fatir: 6).  

CIRI-CIRI GOLONGAN SYETAN,
  1. Makhluk yang sudah dikuasai syetan, dikuasai oleh pengingkaran, dikuasai oleh pembangkangan “Syetan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah, mereka itulah golongan syetan. Ketahuilah bahwa golongan syetan adalah golongan yang rugi.” (Al Mujadilah: 19)
  2. Makhluk yang Lalai. Ketika seseorang itu sudah dikuasai oleh syetan maka dia akan dibuat lalai pada yang seharusnya disembah, pada yang seharusnya dituruti perintahNya, sehingga termasuklah ia kepada golongannya (syetan). {QS. Al Mujadilah: 19-21}
  3. Senantiasa mengikuti hawa nafsu (sangat mudah meninggalkan shalat dan segala perintahNya serta lebih menuruti keinginan nafsunya). “Kemudian datanglah setelah mereka pengganti yang mengabaikan shalat dan mengikuti keinginannya maka mereka kelak akan tersesat.” (QS. Maryam: 59)
  4. Menjauhi Al Qur’an serta tidak mau mengikuti jika ada kebaikan. “...Dan jika mereka melihat jalan yang membawa pada petunjuk, mereka tidak akan menempuhnya, tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka menempuhnya. Yang demikian adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka selalu lengah terhadapnya.” (QS. Al A’raf: 146)
  5. Orang-orang yang loyal/ membantu musuh-musuh Allah

Kamis, 02 Februari 2012

MENYATUKAN VISI DALAM SEBUAH IKATAN SEJATI

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untuk kalian istri-istri dari jenis kalian sendiri, supaya kalian cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya di antara kalian rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir” (Ar-Rum :21)

“Jika kita menghijrahkan cinta; dari kata benda menjadi kata kerja maka tersusunlah sebuah kalimat peradaban dalam paragraf sejarah. Jika kita menghijrahkan cinta; dari jatuh cinta menuju bangun cinta maka cinta menjadi sebuah istana, tinggi menggapai surga” (Salim A. Fillah).

Cinta merupakan fitrah, karunia yang diberikan Allah kepada manusia, sebuah modal yang diberikan oleh Allah. Bagaimana seorang manusia menggunakan modal itu, itu adalah tanggungjawabnya. Cinta bukanlah kata benda, namun dia adalah sebuah kata kerja. Manusia bukan jatuh cinta namun bangun cinta. Begitulah seharusnya modal ini digunakan. “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan dengan memberikan surga untuk mereka” (At Taubah:111).

Coba kita fikirkan, Allah sudah memberi kita modal lalu Allah pun membeli kita dengan surgaNya, betapa nikmat yang luar biasa yang sudah diberikan Allah kepada manusia. Lalu apa yang harus kita fikirkan lagi, kenapa kita tidak segera menjual diri kita kepadaNya dan menggunakan modal ini sebaik-baiknya. ”Orang suci, menjaga kesuciannya dengan pernikahan, dan menjaga pernikahannya dengan kesucian” (Salim A.Fillah). 
Memperbaiki diri sendiri dan menyeru orang lain kepada Allah merupakan dua kewajiban dasar di atas jalan dakwah dan wajib bagi setiap muslim, lelaki dan wanita. Di samping dua kewajiban itu timbul lagi satu kewajiban yang tidak kurang pentingnya yaitu menegakkan rumahtangga muslim. 
Individu muslim itu adalah seorang manusia akidah yang wajib disediakan sarana untuk menjadi muslim yang sejati, yang menjadi contoh Islam yang sahih dan teladan pemimpin yang patut diikuti. Kita sangat memerlukan rumahtangga muslim yang menjadi contoh sebagai tiang yang kuat di dalam pembangunan masyarakat Islam. 
Keluarga muslim mempunyai peranan yang penting di dalam kekuatan dan perpaduan masyarakat atau perpecahan dan kemusnahannya. Rumahtangga merupakan tempat bagi tunas-tunas baru, yang dididik dan dibentuk di peringkat pembentukan dan persediaan. Rumahtanggalah yang bertanggungjawab mencetak dan membentuk keteguhan pribadi anak-anak yang akan mencorakkan hidup mereka. 

MENIKAH adalah keindahan, kecuali bagi yang menganggapnya sebagai beban. Rumahtangga adalah kemuliaan, kecuali bagi yang memandangnya sebagai rutinitas tak bermakna. Menikah, da’wah, dan jihad adalah seiring sejalan, kecuali bagi orang-orang yang terkacaukan logika dan nalarnya. 
PERNIKAHAN berarti mempertemukan kepentingan-kepentingan bukan mempertentangkannya. 
MENIKAH adalah peristiwa fitrah, fiqhiyah, dakwah, tarbiyah, sosial dan budaya. 
  • Fitrah artinya pernikahan merupakan salah satu sarana mengekspresikan sifat-sifat dasar kemanusiaan (yakni kecenderungan terhadap lawan jenis). 
  • Fiqhiyah artinya pernikahan memiliki sejumlah aturan fikih yang jelas (dari proses pembentukan keluarga, setelah terbentuknya keluarga, permasalahan dan solusinya). 
  • Dakwah artinya pernikahan merupakan pengkabaran tentang jati diri Islam kepada masyarakat. Tarbiyah artinya dengan pernikahan akan menguatkan sisi sisi kebaikan individual dari laki-laki dan perempuan yang menikah tersebut. 
  • Sosial artinya dengan pernikahan terhubunglah dua keluarga besar pihak laki-laki dan perempuan. 
  • Budaya artinya dengan pernikahan, terbaurkanlah 2 latar budaya yang tidak mesti sama dari kedua belah pihak. 

Di jalan dakwah, aku menikah. Jalan ini menawarkan kelurusan orientasi, bahwa pernikahan adalah ibadah. Bahwa berkeluarga adalah salah satu tahapan dakwah untuk menegakkan kedaulatan di muka bumi Allah SWT. Bahwa berkeluarga bukanlah hanya proses untuk menghalalkan sesuatu yang belum halal, bahwa menikah bukanlah hanya melembagakan cinta namun menikah adalah cara kita untuk berkeluarga, membingkai nilai dan moral bagi kehidupan awal manusia, menikah adalah penyempurna dan penyuplai keimanan. 

Untuk menjadikan Menikah sebagai penyempurna dan penyuplai keimanan maka sejak proses memilih jodoh landasannya haruslah benar. 
  • Memilih pasangan hidup haruslah karena kebaikan agamanya bukan sekedar karena kecantikan atau ketampanan wajah, kekayaan ataupun atribut-atribut fisikal lainnya. 
  • Proses bertemu dan menjalin hubungan hingga kesepakatan mau melangsungkan pernikahan tidak boleh diisi dengan kegiatan yang melanggar syariat dan nilai-nilai agama. 
"Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya." (asy-Syams: 9-10) Pemilihan Saudara muslim dan saudari muslimah yang mau memperbaiki diri dan menyeru orang lain kepada Allah wajib ke atas keduanya memilih pasangan masing-masing. Putera Islam mencari puteri Islam untuk menjadi isterinya yang solehah. Puteri Islam mencari putera Islam untuk menjadikan suaminya yang soleh untuk berkongsi kehidupan suami isteri. Dari awal-awal lagi hendaklah mereka membangunkan keluarga muslim yang diasaskan di atas dasar takwa. 
Saudara muslim yang sejati wajib mencari puteri Islam yang sejati dan memilih yang beragama, yang memahami tugas dan risalahnya di dalam kehidupan ini. Menjadikan pasangan hidupnya sebaik-baik penolong di atas jalan dakwah. Sentiasa mengingatkannya apabila dia lupa, sentiasa memberi perangsang dan tidak menghalangnya. Memelihara dirinya di waktu ketiadaannya walau berapa lama pun dan mendidik serta membentuk anak-anaknya menurut Islam yang sebenar. 
Demikian juga puteri Islam yang sejati, tidak wajar dan tidak patut menerima sebarang jejaka untuk menjadi pasangan hidupnya kecuali seorang muslim yang sejati yang menjadi pendokong dakwah Islam. Yaitu seorang penganut akidah yang sahih yang bertakwa kepada Allah. Si isterinya pula dapat menolongnya untuk taat setia kepada Allah dan mencapai keridhaan Allah. Dengan cara yang demikian kita telah berjaya membangunkan sebuah keluarga Islam yang akan menjadi pusat dakwah dan jihad Islam. 

Rasulullah s.a.w. telah mengarahkan kita kepadanya dengan sabda baginda: "Wanita itu dinikahi karana empat perkara: karana hartanya, karana keturunannya dan pangkatnya, karana kecantikannya dan kerana agamanya. Maka hendaklah kamu mengambil wanita yang beragama supaya kamu berbahagia". Oleh karana itu Rasulullah s.a.w., tidak mengiktiraf wali yang menikahkan puterinya dengan seorang lelaki yang tidak disukai oleh puterinya. Ini memberi peluang kepada puteri Islam untuk memilih suami yang soleh. Rumahtangga Muslim Merupakan Risalah Sebagaimana kita menghendaki bentuk yang benar dan hidup bagai Islam dan seorang muslim yang benar akidahnya, yang benar ibadatnya, yang benar akhlaknya, yang benar sikap dan yang benar segala tindak tanduk dan perkataannya, demikian juga kita menghendaki rumahtangga muslim itu supaya menjadi pusat perlaksanaan segenap ajaran Islam di dalam hidup berkeluarga dengan perlaksanaan yang selamat sejahtera dan teliti. 
Kita ingin melihat suami muslim yang memikul tanggungjawab terhadap rumahtangganya menurut ketentuan Islam. Kita mau melihat bapak-bapak muslim yang memelihara anak-anaknya dengan adab-adab Islam, memberi kefahaman Islam yang sejati kepada mereka dan mengawasi mereka pada setiap peringkat hidup mereka. Kita mau melihat isteri muslimah yang menjadikan rumahtangga sebagai taman sari yang memuaskan dan menggembirakan suaminya. Di dalamnya terdapat hiburan dan keberkatan jauh dari kepayahan dan penat lelah perjuangan dan menolong suaminya mentaati Allah Taala. 

Alangkah indah dan hebatnya kata-kata yang diucapkan oleh seorang isteri kepada suaminya tatkala dia keluar dari rumahnya di waktu pagi: "Bertakwalah kepada Allah di dalam urusan kami dan janganlah kekanda memberi kami makanan kecuali yang halal dan baik-baik sahaja". 
Kita ingin melihat di dalam rumahtangga muslim ini, ibu muslim yang memelihara anak-anak dan membentuk mereka menurut acuan Islam kerana dialah yang sentiasa berdamping dengan mereka. 
Inilah risalah, amanah dan tugas para wanita dan isteri yang paling penting yang selama ini coba dihapuskan oleh musuh-musuh manusia. Mereka coba menyelewengkan fakta-fakta ini dari para isteri dengan berbagai-bagai pembohongan dan penipuan dengan tujuan untuk merobohkan bangunan masyarakat. 

Kita ingin melihat di dalam rumahtangga muslim itu, putera puteri Islam yang sejati yang memperhambakan diri mereka kepada Tuhan. Mereka mentaati Allah, berbuat baik dan berjasa kepada ibu bapak. Mereka bergaul dengan sahabat-sahabat mereka menurut adab-adab Islam dan tidak lahir dari mulut sepatah perkataan dan sebarang perbuatan yang bertentangan dengan Islam. Kita mengingini rumahtangga muslim yang memelihara hubungan silaturrahim, yang senantiasa mengambil berat urusan kerabat dan menyempurnakan hak-hak mereka. Kita mahu melihat rumahtangga dan keluarga muslim menjadi satu bentuk yang ulung di mana Islam telah terpahat kokoh di dalam diri mereka. Mereka bergaul baik dengan khadam mereka, di mana khadam mereka makan apa yang mereka makan dan berpakaian seperti apa yang mereka pakai dan tidak membebankan sesuatu bebanan di luar kemampuannya. Apabila mereka membebankan sesuatu di luar kemampuannya, mereka menolongnya. 

Kita ingin melihat dari rumahtangga muslim itu satu bentuk yang unik sebagaimana yang telah digariskan oleh Islam tentang berbuat baik di dalam bermuamalah dengan tetangga. Mereka menyempurnakan hak tetangga sebagaimana peranan Rasulullah s.a.w. 

Kita menghendaki rumahtangga muslim yang melahirkan contoh teladan yang baik dalam setiap aspek kehidupan. Dengan fesyen pakaian yang Islamik, makanan dan minuman yang halal, akhlak yang mulia, sikap yang Islamik, gaya yang Islamik dalam setiap adat dan tradisi, di waktu suka dan duka. Mereka menjauhi segala unsur-unsur jahiliah dan budaya jahiliah yang diimport dari luar. 
Kita tidak mau melihat dari golongan sahib-ad-dakwah yang menyeru manusia kepada Allah, yang berjalan di atas jalan dakwah, melakukan sebarang kecuaian atau kelalaian di dalam melahirkan serta membina anggota-anggota keluarganya dengan ajaran Islam di dalam sebarang lapangan kehidupan keluarganya. Sesungguhnya orang yang lemah dalam memimpin rumahtangganya tidak akan mampu memimpin orang lain apatah lagi rumahtangga orang lain. 
Rumahtangga Muslim Sebagai Markas Memancarnya Cahaya Rumahtangga muslim yang sejati menurut tabiat dan lojiknya mesti menjadi pusat dakwah Islam. Setiap anggota keluarga yang akil baligh wajib menjadi sahibud-dakwah, pendukung dakwah, menyeru rumahtangga dan keluarga sekitarnya kepada Allah dengan penuh kesabaran, dengan hikmah dan nasihat yang baik. Isteri yang solehah mampu menarik hati tetangga-tetangga dengan dakwah kepada Allah. Kehadiran mereka merubah majlis-majlis yang dikuasai oleh umpat-mengumpat dan sia-sia menjadi majlis-majlis ilmu dan pelajaran dan ke arah memahami urusan agama. 
Bidang dakwah Islam sangat memerlukan saudari muslimat yang menyeru manusia kepada Allah, supaya memainkan peranannya di kalangan puteri bangsanya. Sesungguhnya wanita hari ini kecuali yang telah mendapat taufik Allah telah dijadikan boneka oleh musuh-musuh Islam untuk meruntuhkan dirinya dan memusnahkan orang lain. Tetapi kita hendaklah menjadikannya sebaga iwanita solehah yang turut bersama kita untuk memperbaiki yang rusak dan membangunkan yang ma‘ruf dan merobohkan yang mungkar serta menghapuskan yang batil, menyokong kemuliaan dan memerangi kehinaan. 
Kita menghendaki rumahtangga muslim sebagai rumah api yang memberi panduan dan petunjuk kepada orang-orang yang bingung dan sesat di sekitarnya. la menghapuskan dan memusnahkan segala kegelapan di sekelilingnya serta menyinari jalannya untuk dilalui oleh mereka. 

Dengan bertambahnya rumah-rumah muslim seperti ini akan bersambung-sambunglah daerah-daerah nur dan cahaya dan bercantum di antara satu sama lain sehingga mampu menyinari masyarakat. Maka dengan demikian keperibadian Islam mampu menyinari masyarakat dan memimpinnya di bawah naungan Islam. Lantaran itu kemuliaan mudah dikembang-biakkan dan kejahatan mudah dihapuskan. Barulah mudah dibentuk dasar dan asas keimanan yang bersih dan mantap sebagai asas bangunan Islam dan pemerintahan Islam seterusnya kerajaan Islam yang global. 

Untuk itu, saudara saudari putera puteri Islam harus dan patut bersungguh-sungguh dan bersegera membangunkan rumahtangga muslim yang ideal yang menjadi model Islam yang sejati untuk menjadi contoh teladan kepada generasi baharu. Ini adalah satu langkah yang penting dan asasi di jalan dakwah Islam. Mohonlah pertolongan dari Allah supaya Allah mudahkan dan jangan menyusahkan.
Wallahu alam bishowab. 

Maroji’ 
Masyhur, Musatafa. Jalan dakwah pdf 
Fillah, Salim A. Jalan Cinta Para Pejuang. 
Fillah, Salim A. Saksikan Bahwa Aku seorang Muslim 
Takariawan, Cahyadi. Keakhwatan 3.

HIJRAH KE HABSYAH

 Latar Belakang Hijrah
Rasulullah menyaksikan bencana yang menimpa para pengikutnya, sedangkan beliau tidak mampu melindungi mereka. Maka beliau berkata kepada mereka, “Seandainya kalian pergi ke negeri habsyah. Sesungguhnya disana terdapat seorang raja yang tidak akan dianiaya orang yang ada di dekatnya. Negeri habsyah adalah tanah kebenaran. Kalian sebaiknya berada di sana hingga Allah member kelapangan bagi kalian” 

  Hijrah Ini adalah hijrah pertama umat Islam. 
Kelompok pertama yang pergi menuju Habsyah terdiri dari 10 orang laki-laki dan 4 orang perempuan. Diantara mereka terdapat ‘Ustman bin Affan dan istrinya, Ruqoyyah binti Rasulullah saw. Mereka dipimpin oleh ‘Ustman bin Mazh’un. Kemudian pergi pula Ja’far bin Abi Thalib yang diikuti oleh umat islam lainnya hingga berkumpullah mereka di negeri habsyah. Diantara mereka ada yang pergi membawa keluarganya, ada pula yang pergi sendirian. Jumlah keseluruhan mereka yang hijrah adalah 83 orang. 
Tujuan dari hijrah ini bukan semata-mata untuk lepas dari gangguan kaum Quraisy namun berkaitan dengan (kepentingan) dakwah Islam dan meringankan beban Rasulullah. 

  Kejadian di Habsyah 
Fitnah dari kaum Quraisy dan Pembelaan dari Umat Islam 
Kaum Quraisy yang mengetahui bahwa orang-orang yang beriman telah mendapatkan ketentraman di habsyah maka mereka mengutus ‘Abdullah bin Abu Rabi’ah dan “amr bin al-‘Ah bin Wa’il. Mereka menyertakan pada keduanya hadiah-hadiah untuk Raja Najasyi dan para panglima perangnya, yaitu berupa benda-benda berharga produksi mekah. Mereka membujuk para panglima dan membuat mereka senang dengan hadiah itu.
Kedua utusan itu pun berbicara kepada Raja: “Sesungguhnya anak-anak yang bodoh telah meminta perlindungan ke negeri Tuan. Mereka telah meninggalkan agama kaumnya dan tidak pula masuk ke agama kalian. Mereka membawa agama yang baru yang tidak kami ketahui dan tidak pula kalian ketahui. Kami telah diutus oleh para pemimpin kaum mereka, ayah-ayah mereka, paman-paman mereka, dan keluarga mereka. Kami memohon agar engkau mengembalikan mereka kembali kepada kaumnya. Karena kaumnya lebih memahami dan lebih berhak atas mereka.
Raja Najasyi murka dan menolak perkataan dua orang itu. Ia akan menyelamatkan orang yang berlindung kepadanya dan ke negerinya. Ia bersumpah setia demi Allah. Lalu ia mengirim utusan untuk memanggil umat Islam dan memanggil para uskupnya.
Raja najasyi berkata kepada umat islam, “Agama apakah yang membuat kalian meninggalkan agama kaum kalian, sedangkan kalian pun tidak masuk ke dalam agamaku dan agama dari salah seorang dari para uskup ini”
Ja’Far bin Abi Tahlib, sepupu Rasulullah, berdiri dan berkata: “Wahai Raja! Dahulu kami adalah kaum jahiliyah. Kami menyembah berhala dan memakan bangkai. Kami juga melakukan perbuatan keji dan memutus tali silaturahmi. Orang yang kuat diantara kami memangsa yang lemah. Kami dahulu seperti itu hingga Allah mengutus kepada kami, seorang rasul yang kami kenal garis keturunannya, kebenaran, kejujuran dan kesuciannya. Ia mengajak kami untuk mengesakan Allah dan menyembahNya, meninggalkan apa yang dahulu kami sembah dan disembah oleh nenek moyang kami, yakni batu dan patung kayu” “Ia memerintahkan kepada kami untuk berkata jujur, melaksanakan amanah, menyambung hubungan kekeluargaaan, bersikap baik kepada tetangga, menjaga kehormatan dan menghentikan pertumpahan darah. Ia melarang kami melakukan perbuatan keji, mengucapkan sumpah palsu, memakan harta anak yatim, dan menuduh berzina pada perempuan yang baik-baik”. “Ia memerintahkan kami untuk menyembah Allah sebagai satu-satunya Tuhan, tidak menyekutukanNya dengan apapun. Ia memerintahkan kepada kami untuk mengerjakan shalat, menunaikan zakat, dan berpuasa…” Lalu Ja’far menyebutkan ajaran islam yang lainnya. “Maka kami mempercayainya dan kami beriman kepadanya. Kami mengikuti apa yang dibawanya dari Allah, kami menyembah Allah sebagai satu-satunya Tuhan, tidak menyekutukanNYa dengan apapun. Kami mengharamkan apa yang diharamkan atas kami, dan kami menghalalkan apa yang dihalalkan untuk kami.” “Maka kaum kami memusuhi kami. Mereka menyiksa kami. Mereka membujuk dan memaksa kami untuk meninggalkan agama kami, dan kembali kepada penyembahan berhala dari penyembahan kepada Allah Yang Maha Tinggi, dan agar kami menghalalkan perbuatan tercela yang dahulu (pada masa jahiliyah) kami halalkan.” “Ketika mereka memaksa kami, menganiaya kami, mempersulit kami dan menghalangi kami dari agama kami, maka kami pergi dari negeri kami. Kami memilih engkau dan kami merasa senang berada di dekatmu. Kami berharap agar kami tidak dianiaya disisimu, wahai raja”.
Raja mendengarkan penjelasan itu dengan tenang dan diam. Lalu bertanya, ”Apakah ada sesuatu yang dibawa sahabatmu itu untuk kalian tentang Allah?”. Ja’far pun membacakan surat Maryam. Maka menangislah Raja dan para uskupnya.
Perkataan Ja’far bin Abu Thalib di hadapan raja memperlihatkan perkataan seorang yang bijaksana, pada tempat dan waktu yang tepat. Uraian tersebut menunjukkan kesempurnaan akal yang dimilki oleh orang yang mengatakannya, selain menunjukkan kesempurnaan penguasaan bahasa arabnya. Hal itu tidak disebabkan oleh apapun kecuali ilham dari Allah untuk menguatkan agama yang cahayanya hendak Allah sempurnakan dan hendak Dia unggulkan dari seluruh agama. Perkataan tersebut juga menunjukkan kemurnian fitrah dan kecemerlangan akal, yang membuat Bani hasyim lebih unggul di kalangan kaum Quraisy, dan membuat kaum Quraisy unggul di hadapan seluruh bangsa Arab.
Ja’far lebih mengutamakan agar jawabannya adalah cerita tentang keadaan masyarakat jahiliyah di Jazirah Arab yang dialaminya. Juga tentang perubahan mereka setelah Alalh mengutus rasulNya kepada mereka. Ia ingin menunjukkan terjadinya perubahan pada masyarakat jahiliyah setelah Rasulullah mengajak kaumnya untuk menyembah Allah.

Kegagalan Utusan Kaum Quraisy dan Kemenangan Umat Islam
Raja najasyi berkata, “Sesungguhnya hal itu dan apa yang dibawa oleh Isa, keluar dari celah yang sama.” Kemudian ia berkata kepada kedua utusan, “Pulanglah kalian. Demi Allah, aku tidak akan menyerahkan mereka kepada kalian”
‘Amr bin Al Ash melontarkan “Panah terakhir”, ia berkata kepada raja Najasyi keesokan harinya, “Wahai raja, sesungguhnya mereka mengatakan sesuatu yang besar mengenai isa putera maryam.”
Maka Raja pun memanggil umat Islam, “Apa yang kalian katakan tentang Isa putera Maryam?”
Ja’far berkata, “Kami mengatakan apa yang dibawa oleh nabi kami. Isa adalah hamba Allah dan utusanNya. Ia adalah ruhNya dan ia adalah kalimatNya yang dimasukkan kepada Maryam sang perawan suci”.
Lalu Najasyi memukulkan tanganya ke tanah dan mengambil sebuah kayu. Kemudian ia berkata, “Demi Allah, Isa putera Maryam tidak lebih dari apa yang engkau katakan kecuali sebatas kayu ini.”
Raja Najasyi pun mengembalikan umat Islam dengan penuh penghormatan ke tempat mereka, menjaga kemanan mereka, dan memerintahkan untuk mengembalikan hadiah kedua utusan kaum Quraisy.
Kedua utusan itu pun pergi dalam keadaan tercela. Maka umat islam pun tinggal di tempat yang paling baik dengan tetangga yang baik pula.
Ketika raja Najasyi diserang musuh maka umat Islam pun membantunya sebagai pengakuan atas kebaikan raja kepada orang-orang tertindas yang berhijrah ke negerinya dan sebagai balasan atas kebaikannya. Hal ini sesuai dengan ajaran moral dalam islam dan sesuai dengan akhlak umat islam.

Hijrah ke Habsyah terjadi pada tahun ke-5 sesudah kenabian. Ja’far dan sejumlah sahabat menetap disana hingga tahun ke-7 Hijriah. Ja’far menemui rasulullah pada perang Khaibar. Jadi mereka tinggal di habsyah selama 15 tahun.