SUNAH RASUL TENTANG MANDI
WAJIB
Ingin tahu, gimana tata cara mandi junub dan mandi wajib setelah
haid yang dianjurkan oleh Rasulullah???
- Membasuh kedua tangan tiga kali
- Membasuh kemalauan dengan tangan kiri tanpa harus memasukkan air ke dalam kemaluan
- Berwudhu seperti wudhu untuk sholat, tapi boleh mengakhirkan basuhan pada kedua kaki hingga selesai mandi.
- Membasahi kepala tiga kali hinga mencapai pangkal rambut
- Membasahi seluruh badan dengan memulai bagian kanan dan dilanjutkan dengan bagian kiri.
- Dianjurkan memakai sabun dan semisalnya
- Dianjurkan menguraikan kepangan rambut saat mandi wajib
- Dianjurkan mengambil kain yang telah diolesi minyak wangi, digunakan untuk mengusap bekas darah sampai baunya hilang.
Cara mandi di atas hukumnya mustahab
(dianjurkan), karena dimabil dari gabungan hadist-hadist rasulullah SAW, yang
berkenaan dengannya. Alhasil, jika seorang wanita mandi wajib dengan mengikuti
sebagian cara tersebut tetap sah, dengan syarat, harus membasuhi seluruh
badannya dengan air.
v Hadist-Hadist yang berkenaan
1. Aisyah ra berkata,”Apabila Nabi SAW, mandi
junub, beliaumemulainya dengan membasuh kedua tangan, dilanjutkan dengan wudhu
seperti wudhu untuk sholat.Setelah itu, beliau memasukkan jari-jari tangannya
ke dalam air lalu membasahi pangkal rambut. Beliau melanjutkan dengan
menuangkan air pada kepala tiga kali lalu membasahi seluruh kulit (tubuhnya).”
(h.r Bukhori dan Muslim)
2. Maimunah berkata,” Aku menyipakan air
untuk mandi Nabi SAW. Beliau membasuh kedua tangan dua atau tiga kali,
menuangkan air dengan tangan kanan ke tangan kiri, lalu membasuh sekitar
kemaluannya. Beliau menggosokkan tangan pada debu atau dinding lalu
membasuhnya. Selanjutnya dia berkumur dan istinsyaq, membasuh wajah dan kedua
tangan serta kepala. Kemudian membasahi seluruh badannya. Setelah itu beliau
bergeser lalu membasuh kedua telapak kakinya. Maka, aku meyodorkan kain
(handuk) kepadanya, tapi beliau menolaknya dengan memberi isyarat tangan.”
(h.r. Bukhori dan Muslim)
3. dll
Referensi: Abu Malik Kamal.
2007. Fiqih Sunah untuk Wanita. Jakarta: Al-I’tishom
Tidak ada komentar:
Posting Komentar