ASSALAMUALAYKUM....

Ahlan wa Sahlan..Selamat datang..welcome...sugeng rawuh..
Semoga tulisan tulisan saya bisa bermanfaat

Demi sebuah rindu yang tak terperi
ku kan terus berlari
menyusuri lautan tak bertepi
mencari cahaya sejati

Kamis, 16 Agustus 2012

MANDI WAJIB UNTUK MUSLIMAH

SUNAH RASUL TENTANG MANDI WAJIB

Ingin tahu, gimana tata cara mandi junub dan mandi wajib setelah haid yang dianjurkan oleh Rasulullah???

  1. Membasuh kedua tangan tiga kali
  2. Membasuh kemalauan dengan tangan kiri tanpa harus memasukkan air ke dalam kemaluan
  3. Berwudhu seperti wudhu untuk sholat, tapi boleh mengakhirkan basuhan pada kedua kaki hingga selesai mandi.
  4. Membasahi kepala tiga kali hinga mencapai pangkal rambut
  5. Membasahi seluruh badan dengan memulai bagian kanan dan dilanjutkan dengan bagian kiri.
  6. Dianjurkan memakai sabun dan semisalnya
  7. Dianjurkan menguraikan kepangan rambut saat mandi wajib
  8. Dianjurkan mengambil kain yang telah diolesi minyak wangi, digunakan untuk mengusap bekas darah sampai baunya hilang.

Cara mandi di atas hukumnya mustahab (dianjurkan), karena dimabil dari gabungan hadist-hadist rasulullah SAW, yang berkenaan dengannya. Alhasil, jika seorang wanita mandi wajib dengan mengikuti sebagian cara tersebut tetap sah, dengan syarat, harus membasuhi seluruh badannya dengan air.

v  Hadist-Hadist yang berkenaan
1.     Aisyah ra berkata,”Apabila Nabi SAW, mandi junub, beliaumemulainya dengan membasuh kedua tangan, dilanjutkan dengan wudhu seperti wudhu untuk sholat.Setelah itu, beliau memasukkan jari-jari tangannya ke dalam air lalu membasahi pangkal rambut. Beliau melanjutkan dengan menuangkan air pada kepala tiga kali lalu membasahi seluruh kulit (tubuhnya).” (h.r Bukhori dan Muslim)
2.      Maimunah berkata,” Aku menyipakan air untuk mandi Nabi SAW. Beliau membasuh kedua tangan dua atau tiga kali, menuangkan air dengan tangan kanan ke tangan kiri, lalu membasuh sekitar kemaluannya. Beliau menggosokkan tangan pada debu atau dinding lalu membasuhnya. Selanjutnya dia berkumur dan istinsyaq, membasuh wajah dan kedua tangan serta kepala. Kemudian membasahi seluruh badannya. Setelah itu beliau bergeser lalu membasuh kedua telapak kakinya. Maka, aku meyodorkan kain (handuk) kepadanya, tapi beliau menolaknya dengan memberi isyarat tangan.” (h.r. Bukhori dan Muslim)
3.      dll

Referensi: Abu Malik Kamal. 2007. Fiqih Sunah untuk Wanita. Jakarta: Al-I’tishom

Tidak ada komentar:

Posting Komentar