Dalam menjalani
misinya sang ulat tak membiarkan sedikit waktu terbuang. Sang ulat baru
berhenti ketika sampai pada saat yang ditentukan dimana ia harus berhenti makan
untuk menuju ke dalam kondisi puasa yang keras. Puasa yang sangat ketat tanpa
makan tanpa minum sama sekali, dalam lingkupan kepompong yang sempit dan gelap.
Pada masa kepompong ini terjadi sebuah
peristiwa yang sangat menakjubkan, masa dimana terjadi transformasi dari seekor
ulat yang menjijikkan menjadi kupu-kupu yang elok dan indahnya dikagumi
manusia. Sang kupu-kupu yang terlahir seakan-akan menjadi makhluk baru yang
mempunyai perwujudan dan perilaku yang baru dan sama sekali berubah.
Haruskah kita membiarkan begitu saja sebuah
peristiwa yang sangat indah dan mengesankan ini, tentu tidak. Sebenarnya kita patut malu bila melihat
tabiat ulat yang pekerja keras. Ulat seakan tak mempunyai waktu yang terluang
dan terbuang sedikitpun. Waktu yang tersedia adalah waktu yang sangat berharga
bagi ulat untuk menggemukkan badan sebagai persiapan menuju sebuah keadaan
dimana diperlukan energi yang besar yaitu masa kepompong, seakan dikejar-kejar
oleh deadline sehingga sang ulat tak pernah beristirahat sejenakpun untuk terus
melahap dedaunan.
Berpacunya sang
ulat dengan waktu, ternyata disebabkan sang ulat telah mempunyai sebuah tujuan
yang sangat jernih dan jelas yaitu mengumpulkan semua potensi yang ada untuk
menghadapi satu saat yang sangat kritis yaitu masa kepompong, dimana pada masa
kepompong tersebut dibutuhkan persiapan yang prima. Datangnya masa kepompong
adalah sebuah keniscayaan, maka sang ulat mempersiapkan dengan kerja keras
untuk menghadapinya.
Sebuah persiapan
diri dengan kerja keras dilakukan juga pada hewan-hewan yang
mengalami musim dingin. Dimana untuk menghadapi masa sulit di musim dingin,
banyak hewan yang melakukan hibernasi selama musim dingin di gua-gua atau
liang-liang, agar terhindar dari ganasnya musim dingin. Agar tubuh tetap hangat
dan tersedianya energi maka sebelum menjelang musim dingin, hewan-hewan
tersebut akan menumpuk lemak sebanyak-banyaknya di dalam tubuhnya, untuk
dipakai sebagai bekal dalam tidur panjangnya.
Lalu coba kita
berkaca dan mereview diri kita, adakah semangat yang luar biasa selayaknya ulat
yang telah menggunduli dedaunan, bukankah sebuah masa depan dan tanggung jawab
yang begitu beratnya harus kita pikul dan tunaikan. Namun kita terbuai dan
masih sering suka bermain-main, selayaknya tertipu oleh permainan yang sangat
melenakan.
Masa-masa dalam
kehidupan kita sebagai individu atau kelompok, pasti tak akan pernah luput dari
masa yang menyenangkan dan kemudian digantikan masa-masa yang sulit, itu adalah
sebuah kepastian, sepasti bergantinya musim hujan disongsong oleh musim kemarau
yang memayahkan.
Di dalam
masa-masa senang satu saat akan berganti menjadi masa yang sulit dan bahkan
menjadi sebuah musibah karena mengintai sebuah keterlenaan. Sungguh benar
hadist nabi untuk mengambil kesempatan lima sebelum lima: muda sebelum tua,
sehat sebelum sakit, kaya sebelum miskin, hidup sebelum mati dan senggang sebelum
sibuk (HR. Al Hakim dan Al Baihaqi). Dan bukankah kita telah diwanti-wanti
untuk senantiasa mempersiapkan diri dengan apa saja yang kita mampu, untuk
menggentarkan hati musuh-musuh kita.
Janganlah kita
terlena bahkan kalah dengan hewan yang bernama ulat yang mempunyai etos kerja
unggul dan memiliki pola pandang yang jauh ke depan yang meniti masa depan
tersebut dengan kerja keras, karena masa depan dengan kesulitan dan cobaan itu
pasti akan datang dan menghampiri kita, maka persiapan yang matang dan kerja
keras yang mampu menolong kita dan bukan kemalasan dan menunda-nunda pekerjaan.
Wallahu a'lam bishshowab (Era Muslim.com)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar